Disadur dari Djambar Hata – oleh Ompu ni Marhulalan

Mangulosi adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak.Kenapa begitu dan darimana semua ini bermula? Beginilah filsafatnya…Dulu…para nenek moyang kita selalu berusaha untuk menghangatkan tubuhnya dengan berbagai cara untuk kesehatan dan kenyamanan. Masalahnya , para leluhur kita hidupnya bukanlah di kota-kotabesar, tetapi di pegunungan yang jauh di atas permukaan laut (sea level). Jadi jangan tersinggung kalau salah satu sebutan untuk bangso kita adalah ‘ Orang Gunung ‘.Di daerah tadi, tentu saja suhunya sangat dingin dan leluhur kita selalu mencari akal untuk menciptakan rasa hangat yang ideal. Satu contohnya bisa kita lihat dari umpasa ini ‘Sinuan bulu mambahen las, Sinuan partuturan sibahen horas’

Itulah sebabnya di kampung kita banyak sekali terdapat tanaman bambu = bulu. Selain dimaksudkan untuk menangkal musuh dan ancaman hewan buas, bambu tadi ternyata sengaja dibuat untuk menciptakan rasa hangat melingkupi rumah sekelilingnya. Logis kan…? Simpelnya begini, kawanan bambu yang saling mengait akan menghambat hembusan angin.Leluhur kita menyebutkan bahwa ada 3 unsur kehidupan ; darah, nafas, dan rasa hangat. Hangat dalam bahasa kita adalah ‘ las ‘. Kita tentu paham ucapansemacam ‘ las roha ‘..adalah ungkapan yang menggambarkan rasasukacita yang dalam. Dari sini, kita makin paham, kehangatan adalah hal yang teramat di inginkan bangso kita. Dulu, leluhur mengandalkan sinar matahari dan perapian sebagai pencipta rasa hangat.Tapi setelah dipikir-pikir…matahari itu datang dan pergi tanpa bisa dikontrol, lagipula datangnya siang hari. Sementara malam hari dinginnya minta ampun. Api tidak praktis digunakan waktu tidur karena resikonya besar.Akhirnya ditemukanlah Ulos. Jangan heran kalau ulos yang kita kenal sekarang dulunya dipakai tidur lho. Tapi jangan salah juga, dulu..kualitasnya jauh lebih tinggi, tebal, lembut, dan motifnya sangat artistik. Sejak saat itu, ulos makin digemari karena praktis. Kemana saja mereka melangkah,selalu ada ulos yang siap membalut tubuhnya dalam kehangatan.Ulospun jadi kebutuhan yang vital, karena sekaligus juga dijadikan bahan pakaian yang indah = uli. Kalau ada pertemuan kepala-kepala kampung, seluruhpeserta melilitkan ulos di tubuhnya. Sedemikian pentingnya ulos ini untuk kehidupan sehari-hari, sehingga paraleluhur kita selalu memilih ulos sebagai hadiah atau pemberian untukorang-orang yang mereka sayangi.Nyatalah sekarang umpasa yang mengatakan :’Si dua uli songon na mangan poga malum sahit bosur butuha ‘Akhirnya, ulos pun masuk dalam adat yang sakral dan dibuat aturannya. Kita harus paham aturan-aturan yang dimaksud :- Ulos hanya diberikan kepada pihak kerabat yang tingkat partuturannya lebihrendah. Misal ; dari hulahula untuk parboruan; dari orangtua untukanak-anaknya; dari haha untuk angginya. Jadi kita tak akan pernah menemukanorang Batak yang mangulosi orang tuanya sendiri atau ada seorang adik yangtanpa perasaan bersalah mangulosi abangnya. Tak ada itu.- Karena ulos telah dibuat menjadi beberapa macam, sudah barang tentu tidaklah sembarangan memberi ulos (mangulosi) kepada orang-orang.

Contoh : Ragidup sebagai ulos panggomgom untuk ina ni hela, Sibolang atau Ragihotang sebagai ulos pansamot untuk ama ni hela. Cara pemakaian ulos ada 3 :1. Siabithononton (dipakai) : Ragidup, Sibolang, Runjat, Djobit,Simarindjamisi, Ragi Pangko.2. Sihadanghononton (dililit di kepala atau bisa juga ditengteng) : Sirara,Sumbat, Bolean, Mangiring, Surisuri, Sadum.3. Sitalitalihononton (dililit di pinggang) : Tumtuman, Mangiring,Padangrusa.
Jaman sekarang, terutama Batak yang sudah tinggal di kota, ulos mutlak digunakan sebagai pendukung ritual adat saja, karena ulos = blanket yang macam-macam sudah bisa kita dapatkan dengan mudah dan sekarang kebanyakan dari kita pasti berpikiran kalau memakai ulos akan kelihatan seperti orang bodoh. Apa boleh buat, itu tergantung dari selera, pergaulan, dan sejauh mana kita mencintai ulos. Tapi terus terang saya tidak bisa memastikan itu salah, benar, atau tidak salah dan tidak benar. Sekedar informasi saja, di Surabaya sini banyak sekali orang Madura yang bangga menggunakan pakaian khas daerahnya di depan public, dan jangan bilang kalau mereka itu kampungan !Kita harus berterima kasih kepada Martha Ulos atau Eva Gracia Ulos yang mau melestarikan seni maha kaya ini.
Berikut adalah jenis-jenis ulos yang biasa digunakan dalam acara adat sekarang ini. Jadi kalau ada jenis ulos yang anda ketahui, tapi tidaktercantum disini, anda boleh menambahi berdasarkan fakta dan persetujuan kita semua. Kita memang kehilangan lecture asli mengenai ragam ulos. Tanpa ada kesan menghakimi, saya menduga, orang Belanda telah mencurinya Probably).
Ada 12 jenis berdasarkan motif dan fungsinya dalam ritual adat :

  • 1. MANGIRING
    Sering diberikan sebagai ulos parompa [gendongan anak], juga dihadiahkan kepada dua kekasih ataupun pasangan muda, dengan harapan anak yang akan memakai parompa ini akan terus dalam iringan orang tuanya. Kepada pasangan pengantin, ulos ini diberikan sembari mengucapkan sebait umpasa, “Giringgiring gostagosta, sai tibu ma hamu mangiringiring huhut mangompaompa” Cara memakainya, sitalihononton atau sinampesampehon = dijadikan selendang.
  • 2. MANGIRING PINARSUNGSANG
    Ulos ini diberikan kalau ada acara adat yang masisuharan/marsungsang =kacau. Misalkan, ada pihak yang semula adalah hulahula kita, tapi kemudian menjadi pihak boru karena alasan pernikahan. Ulos inilah yang patut diberikan kepada pengantin sembari berucap :’ Rundut biur ni eme mambahen tu porngisna, masijaitan andor ni gadong mambahen tu ramosna ‘artinya, biarlah partuturon jadi sedikit kacau kalau itu demi kebaikan.Lihatlah, betapa mulia adat kita Batak. Seharusnya kita bangga.Cara memakainya : sitalihononton atau sinampesampehon.
  • 3. BINTANG MAROTUR/MARATUR
    Beginilah leluhur kita menyebut ulos ini, “On ma ulos ni Siboru Habonaran, Siboru Deak Parujar, mula ni panggantion dohot parsorhaon, pargantang pamonori, na so boi lobi na so boi hurang. Artinya adalah kebijaksanaan. Sekedar info, Deak Parujar adalah tokoh Batak paling bijaksana dan ini akan saya rampungkan dalam kisah tarombo. Ulos ini juga disebut sebagai siatur maranak, siatur marboru, siatur hagabeon, siatur hamoraon.Cara memakainya : sitalihononton atau sinampesampehon.
  • 4. GODANG
    Disebut juga Sadum atau Sadum Angkola. Indah nian ulos ini, dan harganya puncukup indah. Walaupun derajat ulos ini masih di bawah Ragidup, kalau masalah harga ulos ini jangan diadu. Ulos godang kita berikan kepada anak kesayangan kita, yang membawa sukacitadalam keluarga. Inilah yang diharapkan dengan adanya pemberian ulos ini, supaya kelak si anak makin membawa hal-hal kebajikan yang godang = banyak, mencapai apa yang dicita-citakannya dan mendapat berkat yang godang pula dari Debata [Tuhan]. Cara memakainya, dibuat baju, sinampesampehon
  • 5. RAGIHOTANG
    Ulos inilah yang umumnya lebih banyak diuloshon, diberikan saat ini. Kelihatan sangat anggun saat ulos ini diuloshon [dipakaikan = disandangkan], terlebih kalau jenisnya dari motif yang paling bagus. Ragihotang terbaik disebut “Potir si na gok”. Ada beberapa umpasa yang bisa digunakan ketika manguloshon yang satu ini, yakni “Hotang do ragian, hadanghadangan pansalongan sihahaan gabe sianggian, molohurang sinaloan ”Hotang binebebebe, hotang pinulospulos unang iba mandele, ai godang dotudostudos ”Tumburni pangkat tu tumbur ni hotang tu si hamu mangalangka sai di si mahamu dapotan ”Hotang hotari, hotang pulogos gogo ma hamu mansari asa dao pogos ”Hotang do bahen hirang, laho mandurung porapora sai dao ma nian hamu nasirang, alai lam balga ma holong ni roha ”Hotang diparapara, ijuk di parlabian sai dao ma na sa mara, jala sai ro maparsaulian ‘Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon
  • 6. SITOLUNTUHO/SITOLUTUHO
    Ada keistimewaan dari ulos ini, terlihat jelas dalam motif gorganya terdapattolu = tiga tuho = bidang arsiran. Tak salah lagi ini pasti menggambarkanDalihan Na Tolu ( baca souvenir sebelumnya ‘ Paratur ni Parhundulon ‘ ).Jadi jelaslah tujuan ulos ini diberikan. Setelah wejangan Dalihan Na Toludiberikan, kita jangan lupa manghatahon = mengucapkan ‘ sitolu saihot ‘,yakni :1. Pasupasu asa sai masihaholongan jala rap saur matua :’Sidangka ni arirang na so tupa sirang, di ginjang ia arirang, di toru iapanggongonan…badan mu na ma na so ra sirang, tondi mu sai masigomgoman ‘2. Pasupasu hagabeon :’Bintang na rumiris ombun na sumorop anak pe di hamu riris, boru pe antongtorop’3. Pasupasu pansamotan :’Bona ni aek puli, di dolok Sitapongan, sai ro ma tu hamu angka na uli,songon i nang pansamotan ‘Cara memakainya : sinampesampehon.
  • 7. BOLEAN
    Ulos ini diberikan kepada anak yang kehilangan orangtua nya. Bolean =membelaibelai, dimaksudkan untuk mangapuli = membelai hati si anak agarselalu tabah.Cara memakainya : sinampesampehon.
  • 8. SIBOLANG
    Disebut juga sibulang dan diberikan kepada orang sibulang = orang yangdihormati karena jasanya. Misalkan ulubalang yang mengalahkan musuh, atauyang bisa membinasakan binatang pemangsa yang mengganggu.Jaman sekarang, ulos ini diberikan kepada amang ni hela dan ulos ini disebutsebagai ulos pansamot na sumintahon supayaamang ni hela tadi bisa menjaditempat bersandar dan berlindung, na gogo mansamot jala parpomparansibulangbulangan :’Marasar sihosari di tombak ni panggulangan sai halak na gogoma hamu mansarijala parpomparan sibulangbulangan ‘Ulos sibolang juga sering dipakai untuk menghadiri upacara kematian.Sekaligus ulos ini dililitkan di kepala dari namabalu = isteri/suami yangditinggalkan.Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon
  • 9. RAGIDUP
    Betapa sulit dan lelahnya membuat ulos ini, karena motifnya sungguh rumit.Dan memang inilah ulos paling tinggi derajatnya dalam adat kita Batak. Kalaukita cermati rupa gorga dalam ulos ini, seolah-olah semuanya hidup danbernyawa. Itu sebabnya dinamakan Ragidup ( aragi = hidup ). Inilah ulossimbol kehidupan. Umumnya orang Batak ingin hidup dalam waktu yang lama danjarang/tidak pernah ada orang Batak yang saya dengar bunuh diri. Orang Bataktak takut hidup dalam kemiskinan yang mendera untuk terus berjuang demihidup. Kita adalah survivors. itu sebabnya ada umpasa seperti berikut :’Agia pe lapalapa asal di toru ni sobuan agia pe malapalap asal ma dihangoluan, ai sai na boi do partalaga gabe parjujuon ‘Bagian-bagian dari ulos ragidup, namanya dan artinya :- Ada dua sisi tepi sebagai batas, yang menjelaskan kalau semua yang ada didunia ini ada batasnya.- Dua sisi tadi mengapit tiga bagian dan disebut ‘ badan ‘. Bagian palingujung dimana bentuknya kelihatan sama disebut ‘ ingananni pinarhalak ‘.Ingananni pinarhalak terbagi dua lagi , yakni ingananni pinarhalak baoa daningananni pinarhalak boruboru. Bagian ‘badan ‘ tadi warnanya merah kehitamandan ditingkahi garis-garis putih yang disebut ‘honda ‘. Ingananni pinarhalaktadi adalah simbol hagabeon, maranak dan marboru. Masih terdapat tiga simbollagi di sana, yakni :1. Antinganting, adalahsimbol hamoraon, karena antinganting biasanyaterbuat dari emas.2. Sigumang = beruang, yakni simbol kemakmuran. Beruang adalah binatang yangbekerja tepat dan efisien, tidak banyak aksi.3. Batu ni ansimun, melambangkan hahipason (ansimun sipalambok, taoarsipangalumi).Di celah ketiga simbol ini, ada lagi macam bunga yang disebut ‘ipon’, dan dicelah iponipon tadi ada yang disebut dengan ‘rasianna’.Cara mangarasi = memeriksa Ragidup yang baik :1. Ulos itu kelihatan jernih2. Tenunannya rapi dan ukurannya benar ( Martha Ulos mungkin tahu, atauBelanda ? )3. Honda harus berjumlah ganjil.4. Jumlah ipon harus benar.Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon.
  • 10. RAGIDUP SILINGGOM
    Perbedaan ulos ini dengan Ragidup biasa adalah bagian ‘ badan ‘. Ulos inipunya badan yang kelihatan lebih linggom = gelap. Ulos inilah yang palingtepat diberikan kepada anak yang punya pangkat dan punya kuasa, denganmaksud, kita bisa marlinggom = berlindung di bawah kebijaksanaannya. Inibisa juga kita berikan kepada petinggi yang mendatangi kampung kita.Ragidup Silinggom tidak diperjual belikan. Tapi entahlah ada pihak tertentuyang melakukannya. Sebenarnya, ulos jenis ini hanya akan ditenun bila adapemesannya.Cara memakainya : sinampesampehon.
  • 11. PINUSSAAN
    Masih termasuk Ragidup. Cara memakainya pun sama.
  • 12. SURISURI/TOGUTOGU/LOBULOBU
    Ini ulos yang eksentrik. Rambu-rambunya tidak dipotong hingga kedua ujungnyabersatu sebagaimana layaknya kain sarung. Dan hanya wanita lah yang memakaiulos ini. Dimaksudkan, agar mereka kelihatan sopan karena ini pakaianrumahan. Jenis ini juga paling banyak dijadikan parompa.Dinamakan lobulobu supaya segala kebaikan marlobu = masuk ke rumah orangyang memakainya.Apabila ada boruboru yang menggendong ibotonya = adik laki-laki yang kecil,dia akan bersenandung :’Ulos lobulobu marrambu ho ditongatonga tibu ma ho ito dolidoli, jalamambahen si las ni roha ‘Apabila dia menggendong adik perempuannya, dia akan bersenandung :’ Ulos lobulobu marrambu ho ditongatonga sinok ma modom ho anggi, suman tuboru ni namora

Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan Mandailing. Suku Batak Toba adalah masyarakat Batak Toba yang bertempat tinggal sebagai penduduk asli disekitar Danau Toba di Tapanuli Utara. Pola perkampungan pada umumnya berkelompok. Kelompok bangunan pada suatu kampung umumnya dua baris, yaitu barisan Utara dan Selatan. Barisan Utara terdiri dari lumbung tempat menyimpan padi dan barisan atas terdiri dari rumah adat, dipisahkan oleh ruangan terbuka untuk semua kegiatan sehari-hari.

Desa-desa di daerah Danau Toba, meskipun saat ini telah kehilangan dibandingkandengan bentuk desa masa lampau, tetapi ciri yang umum masih ada bahkan pada desa-desa yang kecil, yaitu dikelilingi oleh sebuah belukar bambu. Pohon-pohon bambu sangat tinggi dan seringkali sulit untuk melihat rumah-rumahnya dari luar desa itu, kecuali didaerah yang berbukit. Di sekitar Balige, poros bangunan yang panjang mempunyai arah Utara-Selatan sedang di daerah bukit poros bangunan yang panjang sering diorientasikan secara melintang ke arah sudut-sudut yang tepat ke lereng-lereng bukit. Di daerah Samosir, poros bangunan yang panjang diarahkan ke Timur-Barat.
Pada mulanya Huta, Lumban, atau kampung itu hanya dihuni oleh satu klan atau marga dan Huta itu pun di bangun oleh klan itu sendiri. Jadi sejak mulanya Huta itu adalah milik bersama. Sebagaimana ciri khas orang Batak yang suka gotong royong, demikianlah mereka membangun Huta. Oleh karena Huta didiami oleh sekelompok orang yang semarga, maka ikatan kekeluargaan sangat erat di Huta itu. Mereka secara gotong royong membangun dan memperbaiki rumah, secara bersama-sama memperbaiki pancuran tempat mandi, memperbaiki pengairan, mengerjakan ladang dan sawah, dan bersama-sama pula memetik hasilnya.

Biasanya Huta hanya didiami beberapa anggota keluarga yang berasal dari satu leluhur. Disebabkan oleh pertambahan penduduk, kemudian dibangunlah rumah dekat rumah leleuhur atau ayah yang pertama. Demikian seterusnya bangunan rumah makin bertambah, sehingga terbentuk perkampungan yang lebih ramai. Sering pula kampung itu terdiri dari beberapa kelompok kampung-kampung kecil, yang hanya dipisahkan pagar bambu yang ditanam dipinggiran kampung.

Adanya usaha beberapa orang dari anggota masyarakat dalam satu kampung untuk memisahkan diri dan membentuk kampung sendiri, dapat membuat berdirinya Huta lain. Suatu Huta yang baru, hanya dapat diresmikan kalau sudah ada ijin dari Huta yang lama (Huta induk) dan telah menjalankan suatu upacara tertentu yang bersifat membayar hutang kepada Huta induk.

Rumah adat Batak Toba berdasarkan fungsinya dapat dibedakan ke dalam rumah yang digunakan untuk tempat tinggal keluarga disebut ruma, dan rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan (lumbung) disebut Sopo. Bahan-bahan bangunan terdiri dari kayu dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh. Dinding dari papan atau tepas, lantai juga dari papan sedangkan atap dari ijuk. Tipe khas rumah adat Batak Toba adalah bentuk atapnya yang melengkung dan pada ujung atap sebelah depan kadang-kadang dilekatkan tanduk kerbau, sehingga rumah adat itu menyerupai kerbau.

Punggung kerbau adalah atap yang melengkung, kaki-kaki kerbau adalah tiang-tiang pada kolong rumah. Sebagai ukuran dipakai depa, jengkal, asta dan langkah seperti ukuran-ukuran yang pada umumnya dipergunakan pada rumah-rumah tradisional di Jawa, Bali dan daerah-daerah lain. Pada umumnya dinding rumah merupakan center point, karena adanya ukir-ukiran yang berwarna merah, putih dan hitam yang merupakan warna tradisional Batak.
Ruma Gorga Sarimunggu yaitu ruma gorga yang memiliki hiasan yang penuh makna dan arti. Dari segi bentuk, arah motif dapat dicerminkan falsafah maupun pandangan hidup orang Batak yang suka musyawarah, gotong royong, suka berterus terang, sifat terbuka, dinamis dan kreatif.

Ruma Parsantian didirikan oleh sekeluarga dan siapa yang jadi anak bungsu itulah yang diberi hak untuk menempati dan merawatnya. Di dalam satu rumah dapat tinggal beberapa keluarga , antara keluarga bapak dan keluarga anak yang sudah menikah. Biasanya orangtua tidur di bagian salah satu sudut rumah. Seringkali keluarga menantu tinggal bersama orangtua dalam rumah yang sama.

Rumah melambangkan makrokosmos dan mikrokosmos yang terdiri dari adanya tritunggal benua, yaitu : Benua Atas yang ditempati Dewa, dilambangkan dengan atap rumah; Benua Tengah yang ditempati manusia, dilambangkan dengan lantai dan dinding; Benua Bawah sebagai tempat kematian dilambangkan dengan kolong. Pada jaman dulu, rumah bagian tengah itu tidak mempunyai kamar-kamar dan naik ke rumah harus melalui tangga dari kolong rumah, terdiri dari lima sampai tujuh buah anak tangga. Bersambung.

Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan Mandailing. Sebelum meletakkan pondasi lebih dahulu diadakan sesajen, biasanya berupa hewan, seperti kerbau atau babi. Caranya yaitu dengan meletakkan kepala binatang tersebut ke dalam lubang pondasi, juga darahnya di tuang kedalam lubang. Tujuannya supaya pemilik rumah selamat dan banyak rejeki di tempat yang baru.

Ada tiang yang dekat dengan pintu (basiha pandak) yang berfungsi untuk memikul bagian atas, khususnya landasan lantai rumah dan bentuknya bulat panjang. Balok untuk menghubungkan semua tiang-tiang disebut rassang yang lebih tebal dari papan. Berfungsi untuk mempersatukan tiang-tiang depan, belakang, samping kanan dan kiri rumah dan dipegang oleh solong-solong (pengganti paku). Pintu kolong rumah digunakan untuk jalannya kerbau supaya bisa masuk ke dalam kolong.

Tangga rumah terdiri dari dua macam, yaitu : pertama, tangga jantan (balatuk tunggal), terbuat dari potongan sebatang pohon atau tiang yang dibentuk menjadi anak tangga. Anak tangga adalah lobang pada batang itu sendiri,berjumlah lima atau tujuh buah. Biasanya terbuat dari sejenis pohon besar yang batangnya kuat dan disebut sibagure. Kedua, tangga betina (balatuk boru-boru), terbuat dari beberapa potong kayu yang keras dan jumlah anak tangganya ganjil.

Tiang-tiang depan dan belakang rumah adat satu sama lain dihubungkan oleh papan yang agak tebal (tustus parbarat), menembus lubang pada tiang depan dan belakang. Pada waktu peletakannya, tepat di bawah tiang ditanam ijuk yang berisi ramuan obat-obatan dan telur ayam yang telah dipecah, bertujuan agar penghuni rumah terhindar dari mara bahaya.

Rumah adat Batak Toba pada bagian-bagian lainnya terdapat ornamen-ornamen yang penuh dengan makna dan simbolisme, yang menggambarkan kewibawaan dan kharisma. Ornamen-ornamen tersebut berupa orang yang menarik kerbau melambangkan kehidupan dan semangat kerja, ornament-ornamen perang dan dan sebagainya. Teknik ragam hias terdiri dari dua cara, yaitu dengan teknik ukir teknik lukis. Untuk mengukir digunakan pisau tajam dengan alat pemukulnya (pasak-pasak) dari kayu. Sedangkan teknik lukis bahannya diolah sendiri dari batu-batuan atau pun tanaga yang keras dan arang. Atap rumah terbuat dari ijuk yang terdiri dari tiga lapis. Lapisan pertama disebut tuham-tuham ( satu golongan besar dari ijuk, yang disusun mulai dari jabu bona tebalnya 20 cm dan luasnya 1×1,5 m2). Antara tuham yang satu dan dengan tuham lainnya diisi dengan ijuk agar permukaannya menjadi rata. Lapisan kedua, yaitu lalubaknya berupa ijuk yang langsung diambil dari pohon Enau dan masih padat, diletakkan lapis ketiga. Setiap lapisan diikat dengan jarum yang terbuat dari bambu dengan jarak 0,5 m.
Sebelum mendirikan bangunan diadakan musyawarah terlebih dahulu. Hasil musyawarah dikonsultasikan kepada pengetua untuk memohon nasihat atau saran. Setelah diadakan musyawarah, tindakan berikutnya adalah peninjauan tempat. Apabila tempat tersebut memenuhi persyaratan, maka ditandai dengan mare-mare yakni daun pohon enau yang masih muda dan berwarna kuning, yang merupakan pertanda atau pengumuman bagi penduduk disekitarnya bahwa tempat tersebut akan dijadikan bangunan.
Tahap pertama adalah pencarian pohon-pohon yang cocok kemudian ditebang dan dikumpulkan disekitar tempat-tempat yang akan didirikan rumah. Kemudian bahan-bahan tersebut ditumpuk ditempat tertentu agar terhindar dari hujan dan tidak cepat lapuk atau menjadi busuk.

Dalam mendirikan suatu rumah adat biasanya memakan waktu sampai lima tahun. Sudah barang tentu memakan biaya banyak, karena banyaknya hewan yang dikorbankan, untuk memenuhi syarat-syarat dan upacara-upacara yang diadakan, baik sebelum mendirikan bangunan (upacara mengusung bunti), pada waktu mendirikan bangunan (upacara parsik tiang) pada waktu memasang tiang, dan panaik uwur (pada waktu memasang uwur) maupun pada waktu bangunan telah selesai, yaitu upacara memasuki rumah baru (mangopoi jambu) dan upacara memestakan rumah (pamestahon jabu)

Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan Mandailing.
Daerah yang ditempati oleh suku Batak Simalungun terletak diantara daerah Karo dan Toba di Sumatera Utara. Pada waktu ini sudah hampir tidak terdapat lagi desa-desa tradisional dari suku Batak Simalungun, yang dahulunya merupakan sebuah desa yang besar sekali dikelilingi oleh pohon-pohon beracun. Desa tersebut dibangun di atas sebuah bukit, dan sulit sekali untuk dimasuki kecuali melewati terowongan-terowongan yang langsung dapat mencapai tengah-tengah desa.

Arsitektur tradisional dari suku Batak Simalungun masih dapat dipelajari dari empat jenis bangunan yang masih ada, dalam bentuk Balai Buttu (pintu gerbang rumah), Jambur (gudang), Bolon adat (rumah raja) dan Balai Bolon Adat (gedung pertemuan dan pengadilan). Balai Buttu dicapai dengan anak tangga dari kayu, luasnya kira-kira 6m2 dan tingginya 6 m. Dasarnya adalah balok-balok horisontal yang dibangun dalam bentuk persegi, di susun di atas empat buah batu kali dengan alas ijuk diantara batu dan papan . jambur digunakan untuk menyimpan beras, tetapi dipakai juga sebagai tempat tinggal tamu laki-laki dan tempat dimana para bujangan tidur.
Fungsi dari bangunan ini seperti yang ada di Pematang Purba, tampaknya telah menyimpang dari penggunaan aslinya dan terlihat pada tungku perapiannya. Bagian atas menunjukkan bahwa kegunaan utamanya telah menjadi tempat tinggal dan bukan dipergunakan sebagai tempat penyimpanan beras. Bangunan ini kira-kira luasnya 25 m2 dan tingginya 7m. Strukturnya di atas dua belas batu kali yang tiga menyilang ke depan dan empat dari depan ke belakang. Lantai yang lebih rendah hanya 75 cm dari tanah dan ditopang tiga lapis palang balok. Lumbung digantungkan di atas tungku di tingkat atas, dimana penggunaan utama dari bangunan tersebut tetap sebagai tempat penyimpanan beras.

Balai Balon Adat semula digunakan untuk tempat pertemuan-pertemuan dan untuk membahas masalah penting dalam hukum adat. Sistem pembangunannya sama seperti Balai Buttu, tetapi dalam skala lebih besar. Perbedaan utamanya adalah pada tiang penyangga struktur atap yang diletakkan di atas balok lantai. Tiang berdiameter 35 cmdan dibuat dari kayu yang sangat keras. Dasar dari tiang ini sangat penting dan ditutupi dengan ukiran, lukisan dan tulisan yang berhubungan dengan hukum adat. Bagian depan (Timur) adalah pintu, lebarnya 80 cm dan tingginya 1,5 m, dikelilingi dengan ukiran, lukisan dan tulisan dan dengan dua kepala singa pada ambang pintu.
Potongan yang lebih rendah dari dinding yang miring pada setiap sisi pintunya dipenuhi dengan papan tiang jendela vertikal yang membiarkan masuknya cahaya dan angin. Rumah Balon Adat (rumah raja) terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang besar dibangun pada tiang-tiang vertikal, sedangkan yang kecil disusun pada tumpukan balok horisontal, pintu masuk pada sisi sebelah Timur diapit oleh balkon atas dan bawah, menopang pada sambungan dari bagian atap ke bagian depan bangunan. Ujung atapnya sederhana, dua puluh tiang yang menopang lantai dibentuk menjadi ortogal dan dicat dengan motifgeometris hitam putih.

Tidak seperti bangunan lainnya, bangunan ini mempunyai lantai ganda dengan gang yang menurun ke pusat pada lantai yang lebih rendah. Lantai yang rendah berada 2,80 m dari tanah dan gang digantungkan dengan rota yang diikat pada dua pusat kayu, dilengkapi dengan kumpulan papan yang terbentuk dengan indah sebagai dekorasinya. Tungku perapian dibangun dari sisa pembakaran kayu dan dipenuhi dengan tanah. Di atas tungku dipasang ayunan dimana peralatan memasak disimpan dan bahan makanan dikeringkan serta diasapi.

Pintu pada ujung sebelah Timur kamar raja berisi ruangan tidur kecil dan dua tungku api. Konstruksi pada bagian bangunan ini sama dengan rumah pertemuan (Balai Balon adat) kecuali struktur lantainya sedikit rumit sebagai akibat dari tungku tersebut. Penutup atap keseluruhan adalah jalinan ijuk pada kaso dan papan kecil dari bambu. Bumbungan dikat dengan ijuk dengan hiasan kepala kerbau pada puncaknya.

Pada bangunan Simalungun susunan strukturnya terdiri dari tiang-tiang bergaris tengah 40 sampai 50 cm. Sebagian besar adalah balok-balok dan tiang-tiang yang dibiarkan dalam potongan bundar yang ditebang dari hutan. Kayu yang digunakan pada umumnya adalah kayu keras, kayu tongkang dan kadang-kadang keseluruhan bambu digunakan dalam jalinan ijuk yang diikat dengan rotan atau bambu belah. Struktur tersebut ditata di atas batu-batu kali yang besar kecuali untuk rumah raja. Tiang-tiangnya ditanam di dalam tanah. Pusat tiang terpenting dari gedung pertemuan diukir dari kayu keras yang tebal. Paku tidak digunakan dalam konstruksi, hanya pasak dan tali ijuk baji (sentung).
Bangunan rumah adat Batak Karo merupakan sebuah bangunan yang sangat besar, terdiri dari empat sampai enam tungku perapian, satu untuk setiap unit keluarga besar (jabu) atau untuk dua jabu. Oleh karena itu antara empat sampai duabelas keluarga dapat tinggal di rumah tersebut dan dengan ukuran rata-rata keluarga besar terdiri dari lima orang (suami, istri dan tiga orang anak). Rumah adat Batak Karo dapat ditempati oleh dua puluh sampai enam puluh orang. Anak-anak tidur dengan orangtua sampai menjelang usia dewasa, pada pria dewasa (bujangan) tidur di bale-bale lumbung dan para gadis bergabung dengan keluarga lain di rumah lainnya.

Rumah adat Batak Karo berukuran 17×12 m2 dan tingginya 12m. Bangunan ini simetris pada kedua porosnya, sehingga pintu masuk pada kedua sisinya kelihatan sama. Hal ini sulit untuk membedakan yang mana pintu masuk utamanya. Rumah adat Batak Karo dibangun dengan enam belas tiang yang bersandar pada batu-batu besar dari gunung atau sungai. Delapan dari tiang-tiang ini menyangga lantai dan atap, sedangkan yang delapan lagi hanya penyangga lantai saja. Dinding-dindingnya juga merupakan penunjang atap. Kedua pintumasuk dan kedelapan jendela dipasang di atas dinding yang miring, di atas lingkaran balok. Tinggi pintu setinggi orang dewasa dan jendela ukurannya lebih kecil. Pintu mempunyai daun pintu ganda sedangkan jendela mempunyai daun jendela tunggal.

Bagian luar dari kusen jendela dan pintu umumnya diukir dalam versi yang rumit dari susunan busur dan anak panah. Atap dijalin dengan ijuk hitam dan diikatkan kepada sebuah kerangka dari anyaman bambu yang menutupi bagian bawah kerangka dari pohon aren atau bambu. Bumbungan atap terbuat dari jerami yang tebalnya 15 sampai 20 cm. Bagian terendah dari atap pertama di bagian pangkalnya ditanami tanaman yang menjalar pada semua dinding dan berfungsi sebagai penahan hujan deras. Ujung dari atap yang menonjol ditutup dengan tikar bambu yang sangat indah.

Fungsi utama dari ujung atap yang menonjol ini adalah untuk emmungkinkan asap keluar dari tungku dalam rumah. Pada bagian depan dan belakang rumah adalah panggung besar yang disebut ture, konstruksinya sederhana dari potongan bambu melingkar dengan diameter 6 cm. Panggung ini dugunakan untuk tempat mencuci, menyiapkan makanan, sebagai tempat pembuangan (kotoran hewan) dan sebagai ruang masuk utama. Jalan masuk menuju ture adalah tangga bambu atau kayu.

Bagian pokok dari tungku perapian adalah untuk memasak, dibuat antara dua lantai sehingga bagian dasarnya bersandar di atas bambu dan ujungnya adalah setingkat dengan lantai utama. Sisi-sisi dari bagian pokok tersebut dibuat dari sisa-sisa kayu bakar dan ditempatkan pada tanah yang keras. Sepanjang pertengahan dari rumah adalah gang yang sempit setingkat dengan lantai dasar, dan sepanjang sisi-sisi dinding dibangun tempat tidur.
Interior dari rumah sangat gelap karena jendela-jendelanya yang kecil serta asap dari perapian yang telah menghitamkan seluruh papan dan kayu-kayu. Tempat penyimpanan makanan dan peralatan rumah tangga diletakkan dibagian atas rumah, dimana balok bulat yang menghubungkan tiang-tiang penunjang yang menembus lantai pada setiap sisi rumah dan menunjang struktur atap dan podium. Lumbung untuk menyimpan padi, yang dalam bahasa daerah Batak disebut jambur, didirikan dalam tiga tingkatan. Selesai.

by : Micha F. Lindemans
source : myth

Traditional Batak religion has all but disappeared today, but numerous works on the subject give a good idea of it. The religious beliefs of the Batak of Sumatra prior to their adoption of Islam or Christianity were shaped by the fusion of two major influences: the Old Megalithic and Hindu influences, which contributed to the formation of the ancient Batak culture.

The Indian influence can be found in the most essential elements of their traditional religious belief, such as the formation of the universe, creation myths, the existence of the souls and its survival after death, shamanist traditions, and others.

The Batak believed that the universe was divided into three levels: the upper-world, called Banua Ginjang, the middle-world, called Banua Tonga, and the under-world, which was called Banua Toru. Cosmic harmony depended upon the cooperation between the three levels. In this, the middle-world, that of humanity, played an essential role as both bridge and regulator between the upper and the lower worlds. The upper-world was the abode of a multitude of gods, while the under-world was inhabited by demons and spirits of the earth and fertility.

The creator of the universe was known as Mulajadi na Bolon. He was assisted by a whole pantheon of lesser gods, distributed among the seven levels of the upper-world. His children constitute a sacred triad, which consisted of Batara Guru, Soripada, and Mangala Bulan. These three divinities were venerated by the Batak as a triform unity under different names: Debata Sitolu Sada (“the three devatas in one”) or Debata na Tolu (“the three gods”). In the order of presidence in the Batak pantheon, they come immediately after the supreme god Mulajadi na Bolon.

Other important deities were Debata Idup (the “living god”) and Pane na Bolon, who ruled the middle-world. A host of lesser divinities occupy the seven different levels of the upper-world. These too are more or less related to the Indian divinities. Among those divinities are, for instance, Boraspati ni Nato and Boru Saniang Naga. At a lower level exist a multitude of spirits who inhabit lakes, streams, and mountains. In traditional Batak animism, still alive to some extend today, all were venerated simultaneously; the supreme god, the lesser gods, the nature spirits, and the Begu or souls of the ancestors.

Oleh: Ahmad Arif
[sumber : Kompas, Senin 19 September 2005]

Pukul 09.00 pertengahan Juli 2005 di Huta Tinggi, Kecamatan Lagu Boti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Ribuan pengikut Parmalim dari berbagai belahan Nusantara berkumpul. Mereka sibuk menyiapkan upacara syukur atas panen tahun ini. Tak ada komando, tetapi semuanya tergerak untuk ikut menyiapkan upacara.

Pagi itu, para pengikut Parmalim kembali menggelar Sipahalima. Upacara yang dilakukan setiap bulan kelima dalam kalender Batak ini dilakukan untuk bersyukur atas panen yang mereka peroleh. Upacara ini juga merupakan upaya untuk menghimpun dana sosial bersama dengan menyisihkan sebagian hasil panen untuk kepentingan warga yang membutuhkan. Misalnya, untuk modal anak muda yang baru menikah, tetapi tidak punya uang atau menyantuni warga yang tidak mampu makan.

Setelah makan siang bersama, sekitar pukul 13.00, seluruh peserta kemudian berkumpul di halaman depan bale partonggoan atau balai peribadatan. Raja Marnakkok Naipospos, yang menjadi Raja Ihutan (pemimpin spiritual umat Parmalim saat ini), memimpin keseluruhan upacara.

Selama upacara, para penganut Parmalim mengenakan pakaian adat. Kaum laki-laki yang sudah berkeluarga mengenakan tali-tali (sorban) berwarna putih, sarung, dan jas berselempang ulos. Sementara pria lajang mengenakan sarung dan baju biasa berselempang ulos. Kaum wanita mengenakan sarung bermotif batik, kain kebaya, ulos, dan menggelung rambut ke dalam.

Raja Marnakkok memimpin doa-doa kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan pencipta langit dan bumi), doa untuk Debata Natolu, yaitu Batara Guru, Debata Sori, dan Bala Bulan, serta doa untuk Siboru Deak Parujar, doa untuk Naga Padoha Niaji, doa untuk Saniang Naga, doa untuk Raja Uti, doa untuk Tuhan Simarimbulu Bosi, doa untuk Raja Na Opatpuluh Opat atau semua nabi yang diutus Tuhan kepada bangsa-bangsa melalui agama- agama tertentu, doa untuk Raja Sisingamangaraja, doa untuk Raja Nasiak Bagi yang dianggap sebagai penyamaran atau inkarnasi Raja Sisingamangaraja.

Musik senantiasa mengiringi doa-doa yang dipanjatkan penuh kusuk itu. Bagi masyarakat Batak, musik dipercaya sebagai media untuk menyampaikan doa agar sampai ke alam spiritual.

Upacara berakhir menjelang senja dan sebelum ditutup, seekor sapi jantan berwarna hitam disembelih sebagai kurban. Setelah dimasak, seluruh peserta ritual makan bersama.

Sipahasada

Di samping Sipahalima, ritual tahunan yang rutin dilakukan oleh pengikut Parmalim adalah Sipahasada. Upacara yang dilakukan pada awal upacara Tahun Baru dalam kalender Batak itu dilakukan untuk memperingati kelahiran para pemimpin spiritual mereka.

Dua hari sebelum upacara dilaksanakan, umat Parmalim di berbagai tempat melakukan puasa selama 24 jam. Dan sebagai pembuka dan penutup puasa, mereka melakukan ritual mangan napaet atau memakan makanan yang pahit.

Bahan-bahan makanan dalam ritual mangan napaet terdiri dari daun pepaya muda, cabai, garam, dan nangka muda. Sebelum dimakan, bahan-bahan makanan ini ditumbuk halus. Ritual mangan napaet merupakan simbol untuk mengenang kepahitan dan penderitaan Raja Nasiak Bagi, salah satu pemimpin spiritual Parmalim. Setelah ritual mangan napaet yang dilaksanakan di punguan (komunitas) masing-masing, mereka menuju bale pasogit atau tempat peribadatan bersama di Huta Tinggi.

Sebagaimana Sipahalima, Raja Marnakkok Naipospos juga yang memimpin upacara Sipahasada. Sebelumnya, di dalam bale partonggoan atau tempat peribadatan telah disiapkan pelean (sesajen). Pelean ini berupa daging ayam, kambing putih, ihan (ikan batak), telur, nasi putih, sirih, sayur-mayur, jeruk purut, air suci, dan dupa. Lazimnya dalam tradisi adat Batak kuno, bahan- bahan untuk pelean berasal dari hewan-hewan atau hasil pertanian terpilih. Paling tidak, dalam pelean harus ada urapan, air suci, dan dupa, ujar Monang Naipospos, tokoh Parmalim Huta Tinggi. Setelah diperiksa oleh Raja Ihutan, pelean dibawa ke lantai dua (pamelean) bale partonggoan secara berantai.

Di tempat ini, Raja Ihutan akan memastikan letak dan arah pelean. Pascaritual penyiapan pelean, Raja Ihutan kembali turun ke bawah untuk memimpin doa- doa. Semua peserta ritual kusuk berdoa. Bahkan, sebagian terlihat menitikkan air mata.

Di tengah stigma negatif dan hambatan sosial karena tiadanya pengakuan agama mereka oleh negara, tetap saja mereka berusaha melakukan ritual sesuai dengan keyakinan dengan penuh takzim. Masalah keyakinan memang tak bisa dibelenggu….

sumber : Rubrik Pariwisata di harian bisnis
Sabtu, 02/04/2005

Sumatra Utara saat ini masih memiliki sekelompok masyarakat yang masih memegang teguh agama dan budaya asli daerah. Agama Parmalim, yang sudah sengaja diisolasi ratusan tahun, hingga kini mampu bertahan dengan pusatnya di Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Ritual-ritual dalam Parmalim sudah berlangsung lama dalam tradisi Batak Kuno dan saat ini masih dipertahankan, meski kelembagaan Parmalim yang dipusatkan di Kompleks Bale Pasogit baru resmi berdiri 3 Agustus 1921, setelah mendapat persetujuan WKH Ypes, Controleur van Toba waktu itu.

Berdasarkan sejarah, Parmalim Hutatinggi dirintis Raja Mulia Naipospos (wafat 18 Februari 1956). Saat ini Parmalim Hutatinggi dipimpin Raja Marnakkok Naipospos, cucu Raja Mulia Naipospos. Penganut Parmalim Hutatinggi tercatat sekitar 6.000 jiwa (1.500 KK) dan tersebar di 50 komunitas di seluruh Indonesia.

Di Hutatinggi, terdapat kompleks bernama Bale Pasogit (balai asal-asul). Ada empat bangunan berarsitek Batak yang terdapat dalam kompleks itu yakni, Bale Partonggoan (balai doa), Bale Parpitaan (balai sakral), Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan Bale Parhobasan (balai pekerjaan dapur). Bagi umat Parmalim, Bale Pasogit merupakan Huta Nabadia (tanah suci). Semua bale ini didesain dengan motof batak yang sarat dengan arti khusus.

Di kompleks itu pula, dua kali dalam setahun, umat Parmalim menggelar upacara keagamaan besar Sihapa Sada (upacara menyambut tahun baru sekaligus memperingati kelahiran para pemimpin spiritual Parmalim) dan Sipaha Lima (upacara syukuran atas rahmat yang diterima dari Raja Mulajadi Nabolon).

Masyarakat Parmalim sangat terbuka dengan orang luar, dan tidak segan-segan menjawab semua pertanyaan dari tamu tentang agama dan budaya mereka. Bahkan mereka menginzinkan beberapa ilmuwan, budayawan ataupun seniman untuk meneliti Parmalim, sepanjang dilakukan secatra jujur dan tidak menggunakan hasilnya untuk tujuan negatif.

Kearifan lokal

Salah satu karakter yang paling menonjol dari penganut Parmalim Hutatinggi dan diakui masyarakat sekitarnya adalah kaya akan kearifan lokal. “Parmalim masih sangat mempertahankan kearifan dalam mengelola lingkungan hidup, yang terlihat jelas dari prilaku umat Parmalim sehari-hari,” ujar Surung Simanjuntak, putra daerah batak yang sudah tidak menganut Parmalim.

Monang Naipospos, Tokoh Parmalim, mengatakan Parmalim menekankan lingkungan hidup pada dasarnya memberikan dukungan terhadap kelangsungan hidup manusia, sehingga sewajarnya manusia juga memberi dukungan terhadap lingkungan hidup. “Air adalah sumber kehidupan, maka kita harus memberi dukungan terhadap semua hal yang mendukung pelestarian air.”

Pada saat menebang pohon misalnya, Parmalim memiliki tata cara tertentu, dimana si penebang harus berusaha agar pohon jangan sampai menimpa anak pohon lain. Jika penebang tidak bisa melaksanakan syarat ini, penebang pohon harus diganti orang lain.

Begitu pun ketika memetik umbi-umbian yang menjalar, umat Parmalim harus menyisakan tunas sehingga bisa tumbuh kembali.

Dalam melaksanakan sesuatu, Parmalim mengenal istilah parsolamo (pembatasan). Tingkat kedewasaan seseorang dinilai dari seberapa besar ia bisa membatasi diri. Misalnya dalam mengkonsumsi makanan, umat Parmalim dilarang makan babi, anjing, darah, dan barang curian.

Parmalim juga masih setia menggunakan kalender batak (parhalaan), yang tahun ini perayaan tahun baru Upacara Sipaha Sada jatuh pada Maret. Upacara di Bale Pasogit ini merupakan ritual yang sangat penting, sehingga diikuti segenap umat dari berbagai daerah.

Sisingamangaraja

Saat upacara, mereka juga mendoakan para raja-raja Parmalim terdahulu seperti Sisingamangaraja dan penghargaan kepada pemimpin di seluruh dunia, yang disebut dengan filosofis yang artinya pemimpin dari empat penjuru dunia dan empat segi kehidupan.

Dua hari sebelum upacara itu, umat Parmalim melakukan puasa selama 24 jam. Sebagai pembuka dan penutup puasa, mereka melakukan ritual mangan napaet (menyantap makanan yang pahit) sebagai simbol untuk mengenang kepahitan dan penderitaan Raja Nasiak Bagi (salah satu pemimpin spiritual Parmalim) ketika menegakkan agama Parmalim.

Bahan-bahan makanan dalam ritual itu terdiri dari daun pepaya muda, cabai, garam, dan nangka muda. Sebelum disantap, bahan-bahan makanan ini ditumbuk halus. Sebelum melakukan Upacara Sipaha Sada, ada selang satu hari yang digunakan umat untuk beristirahat yang biasa disebut robo.

Untuk mengikuti upacara ini, para penganut Parmalim mengenakan busana khusus dan berbeda-beda. Pria mengenakan jas berselempang ulos dari jenis ragi hotang dan sarung ulos dari jenis bintang maratur. Pria yang sudah menikah menggunakan sorban yang disebut tali-tali berwarna putih menandakan kesucian. Pemimpin umat menggunakan tali tali berwarna hitam yang menandakan kepemimpinan dan tanggung jawab.

Hal ini sesuai dengan tiga warna yang melambangkan tiga kepribadian Batak, yaitu hitam berarti kepemimpinan dan tanggung jawab, merah berarti ilmu pengetahuan adalah kekuatan dan putih yang melambangkan kesucian. Tiga warna ini, selain menjadi warna pakaian dan ulos, juga terlihat dari desain pada rumah adat batak.

Sedangkan wanita mengenakan sarung (ragi) yang berbentuk ulos dari jenis runjat, kebaya, selendang (hande-hande) dari jenis yang bervariasi, yaitu sadum, bintang maratur dan mangiring.

Satu lagi yang unik, perempuan diwajibkan menggunakan sanggul toba (gulungan rambut ke dalam) sebagai warisan para wanita batak ratusan tahun lalu.

Tepat tengah hari, ritual dimulai. Raja Marnakkok Naipospos yang menjabat sebagai Raja Ihutan (pemimpin spiritual umat Parmalim saat ini) memasuki Bale Partonggoan. Sebelumnya, di dalam Bale Partonggoan telah disiapkan pelean (sesajen) berupa daging ayam, kambing putih, ihan (ikan batak), telur, nasi putih, sirih, sayur-mayur, jeruk purut, air suci, dan dupa.

Lazimnya dalam tradisi adat Batak Kuno, bahan-bahan untuk pelean berasal dari hewan-hewan atau hasil pertanian terpilih, meski tidak wajib melainkan kemampuan orang yang melakukan upacara. Pelean yang wajib harus urapan, air suci dan dupa.

Setelah diperiksa oleh Raja Ihutan, pelean dibawa ke lantai dua (pamelean) Bale Partonggoan secara berantai. Di tempat ini, Raja Ihutan akan memastikan letak dan arah pelean.

Setelah ritual penyiapan pelean, Raja Ihutan kembali turun ke bawah untuk memimpin Upacara Sipaha Sada yang berlangsung dengan hikmat dan menghabiskan waktu sekitar lima jam, meliputi penyembahan dan kotbah dari Ihutan. Malam harinya acara di lanjutkan dengan pesta muda mudi.

[Erna Sari Ulina Girsang – Kontributor Bisnis]

Oleh :Anwar saleh daulay *)
sumber : http://www.karyas.com/
Online article: http://www.karyas.com/p/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=4

Abstrak: Suku Batak memiliki adat budaya yang baku yang disebut Dalihan Na Tolu yang dapat menembus sekat-sekat agama/kepercayaan mereka yang dapat berbeda-beda. Adat budaya Batak ini memiliki tujuh nilai inti yaitu kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Nilai hamoraan (kehormatan) terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Nilai uhum (law) mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya dalam menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari ketaatan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat. Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.

Indonesia selain memiliki wilayah yang luas, juga mempunyai puluhan bahkan ratusan adat budaya. Salah satu diantaranya adalah adat budaya Batak Sumatera Utara, sesungguhnya setiap adat budaya merupakan potensi yang bernilai guna bilamana dijaga dan dilaksanakan dengan baik. Rahmani Astuti (1992:145) mengatakan bahwa nilai adat budaya sangat berguna untuk mengaktualkan nilai-nilai estetika dalam kehidupan kita, dan sekaligus ia dapat dijadikan sebagai intrumen penjaga identitas dan perekat kesatuan bangsa. Dewasa ini bangsa kita menghadapi berbagai tantangan, diantaranya adalah terusiknya aspek integritas dan identitas bangsa yang sangat majemuk. Indikasi terhadap terjadinya disintegrasi telah muncul di beberapa tempat seperti Aceh, Riau, Irian Jaya, dll. Mereka menuntut keseimbangan keuangan pusat dan daerah bahkan menuntut kemerdekaan.

Berkenaan dengan masalah bangsa tersebut, pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah cara memelihara integritas dan identitas masyarakat kita yang terancam luntur itu? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui problema yang melatarbelakanginya. Di antara problema yang ada mengungkapkan bahwa latar belakang timbulnya diintegrasi dan erosi identitas adalah berkaitan dengan gaya (style) kebijakan pembangunan masa lalu (baca: masa orde baru) yang antara lain (1) penerapan sentralisme dalam segala hal, (2) uniformisme terhadap banyak pranata sosial budaya, (3) derasnya intervensi budaya asing. Akibat dari kebijakan itu adalah terganggunya potensi budaya lokal sebagai alat pembina jiwa integritas dan identitas bangsa yang terkenal dengan semboyan bhineka tunggal ika. M. D. Harahap (1986:24) mengatakan bahwa beberapa daerah ternyata memiliki sejumlah mekanisme kepemimpinan dan kearifan sebagai bagian dari nilai adat budaya. Dalam konsep adat budaya daerah terdapat beberapa kearifan lokal dan sejumlah kepemimpinan lokal yang kesemuanya potensial dalam menata masyarakat damai dengan identitas dan integritas bangsa yang kuat. Akibat dari kebijakan masa lalu yang cenderung melemahkan potensi daerah, dan dikaitkan dengan realitas terganggunya kerukunan khidupan bangsa, maka sudah selayaknya nilai-nilai adat budaya dihidupkan kembali untuk memperkuat jiwa integritas dan identitas bangsa. Dengan cara mengenalkan dan mensosialisasikannya kembali adat budaya di tengah-tengah masyarakat diharapkan masyarakat Indonesia memiliki landasan adat budaya sehingga mampu menangkal pengaruh-pengaruh yang merusak sistim nilai-nilai sosial budaya. Dalam usaha mengenalkan adat budaya daerah itulah maka adat budaya Batak Dalihan Na Tolu disajikan. Untuk melakukan pengkajian, penilaian, dan pengenalan kembali adat budaya batak dewasa ini dicoba disoroti dengan cara menjawab pertanyaan: dimana, apa, mengapa, dan bagaimana adat budaya Batak itu. 1.1. Dimana Wilayah Adat Budaya Batak Suku batak mempunyai lima sub suku dan masing-masing mampunyai wilayah utama, sekalipun sebenarnya wilayah itu tidak sedominan batas-batas pada zaman yang lalu. Sub suku dimaksud yaitu: (1) Batak Karo yang mendiami wilayah dataran tinggi Karo, Deli Hulu, Langkat Hulu, dan sebagian tanah Dairi; (2) Batak Simalungun yang mendiami wilayah induk Simalungun; (3) Batak Pak Pak yang mendiami wilayah induk Dairi, sebagian Tanah Alas, dan Gayo; (4) Batak Toba yang mendiami wilayah meliputi daerah tepi danau Toba, Pulau Samosir, Dataran Tinggi Toba, dan Silindung, daerah pegunungan Pahae, Sibolga, dan Habincaran; dan (5) Batak Angkola Mandailing yang mendiami wilayah induk Angkola dan Sipirok, Batang Toru, Sibolga, Padang Lawas, Barumun, Mandailing, Pakantan, dan Batang Natal. (Nalom Siahaan: 1982:X). Menurut tarombo (silsilah) orang Batak, semua sub-sub batak itu mempunyai nenek moyang yang satu yaitu si Raja Batak (W. W. Hutagalung, 1990:7). Dari si Raja Batak inilah bekembang sub-sub suku Batak yang mengembara ke wilayah-wilayah teritorial di atas sejalan dengan perkembangan pemukiman baru atau perkotaan yang semakin meluas. Setiap pembukaan kampung baru biasanya diringi dengan penabalan marga baru terhadap orang yang membuka perkampungan tersebut. Cara ini terutama dilaksanakan dilingkungan sub-sub suku Batak Toba, sehingga dengan demikian jumlah marga dilingkungan suku Batak Toba adalah relatif lebih banyak jumlahnya, berbeda dengan jumlah marga pada sub suku Batak Mandailing Angkola yang relatif lebih sedikit jumlahnya karena tidak menerapkan cara penebalan marga baru. Marga dilingkungan suku Mandailing Angkola adalah hanya belasan jumlahnya, yaitu Nasution, Lubis, Siregar, Harahap, Hasibuan, Batu Bara, Dasopang, Daulay, Dalimunthe, Dongoran, Hutasuhut, Pane, Parinduri, Pohan, Pulungan, Siagian, Rambe, Rangkuti, Ritongga, dan Tanjung (St. Tinggibarani, 1977 : iii). Sedang marga pada subsuku Batak Toba adalah puluhan jumlahnya. Semua sub suku Batak yang disebut di atas telah meluas dan tersebar di Sumatera Utara, berintegrasi dengan suku-suku bangsa lainnya. Di berbagai tempat di luar Sumatera Utara suku Batak banyak dijumpai sebagai perantau dan di daerah rantau suku batak biasanya tetap terikat dengan adat budaya sukunya. Misalnya di Sumatera Barat antara lain banyak terdapat di Rao, Lembah Malintang, dan Lubuk Sikaping (Kabupaten Pasaman); Lima Kaum (Kabupaten Tanah Datar); dan Lubuk Bagalung (Kabupaten Padang Pariaman). Di Propinsi Riau banyak terdapat di Tambusai, Rambah, Rokan, Tandun, dan Kota Darusalam Kabupaten Kampar. Kebanyakan perantau suku Batak di kedua propinsi ini adalah suku Batak Angkola Mandailing. Nalom Siahaan (1982:48) mengatakan bahwa sekalipun di rantau suku Batak selalu peduli dengan identitas sukunya, seperti berusaha mendirikan perhimpunan semarga atau sekampung dengan tujuan untuk menghidupkan ide-ide adat budayanya. Mereka mengadakan pertemuan secara berkala dalam bentuk adat ataupun silaturahmi. Mobilitas orang Batak yang cukup tinggi mengantarkan mereka ke berbagai penjuru tanah air di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri, seperti ke Malaysia. Di negeri jiran ini, yakni negara bagian Perak, terdapat nama kampung yang sama dengan kampung asal para migran Mandailing Angkola seperti kampung Sihepeng. Di negeri jiran itu juga mereka mendirikan paguyuban kedaerahan yang bernama Ikatan Kebajikan Mandailing Malaysia (Harahap. E.St, 1960:27). Adat budaya Batak sebenarnya sudah dikenal sebagai bagian budaya Nusantara sejak zaman Majapahit. Hal ini dengan jelas diungkapkan oleh sejarawan Majapahit Mpu Prapanca dalam karya monumentalnya Negarakertagama yang bertarikh 1365 M, yang menyebutkan ada tiga daerah budaya Batak Mandailing, yaitu Angkola, Mandailing, dan Padanglawas. (Harahap B. Hamidi, 1979:8) Dari catatan sejarah diketahui bahwa berbagai pengaruh luar sudah lama memasuki wilayah daerah Batak. Pada Batak Angkola Mandailing pengaruh yang kuat adalah dari dunia Islam. Sedang di daerah Batak Toba pengaruh yang kuat adalah dari misi Kristen pada permulaan abad 19. Tidak dapat disangkal bahwa berbagai pengaruh yang berlangsung berabad-abad telah menjadikan akulturasi dalam suku Batak dengan berbagai variasi dalam adat budaya Batak seperti langgam bahasa, dialek, pakaian adat, dan lain-lain. Namun demikian ada nilai inti (core values) yang tetap baku dan berlaku bagi seluruh sub suku Batak di wilayah dimanapun ia berada, yaitu adat Dalihan Na Tolu, dimana adat ini dapat menembus sekat-sekat agama/kepecayan kedalam suatu kesatuan sosial. 1.2. Apa Nilai Inti Budaya Batak Itu? Nilai inti budaya (core values of culture) suatu bangsa atau suku bangsa biasanya mencerminkan jati diri suku atau bangsa yang bersangkutan. Sedangkan jati diri itu maksudnya merupakan gambaran atau keadaan khusus seseorang yang meliputi jiwa atau semangat daya gerak spiritual dari dalam. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa nilai inti budaya Batak cukup luas. Dari berbagai kajian terhadap sejumlah ungkapan kata-kata, aksara orang Batak yang diikuti dengan pengalaman adat budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka dapat dilihat adanya tujuh macam nilai inti budaya suku Batak. Ketujuh nilai inti budaya Batak dimaksud ialah kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Secara ringkas nilai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Kekerabatan Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Hal ini terlihat baik pada Toba maupun Batak Angkola Mandailing dan sub suku Batak lainnya. Semuanya sama-sama menempatkan nilai kekerabatan pada urutan yang paling pokok. Nilai inti kekerabatan masyarakat batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalihan Na Tolu. Hubungan kekerabatan dalam hal ini terlihat pada tutur sapa baik karena pertautan darah ataupun pertalian perkawinan. (2) Agama Nilai agama/kepercayaan pada orang Batak tergolong sangat kuat. Sedang agama yang dianut oleh suku batak amat bervariasi. Menurut data (Departemen Agama Sumatera Utara, 1999) ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam seperti Angkola Mandiling, ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen seperti Batak Toba, dan ada wilayah Batak yang prosentase penganut agamanya berimbang seperti wilayah Batak Simalungun. Secara intensif ajaran agama telah disosialisasikan kepada anak-anak orang Batak sejak masa kecilnya dengan penuh pengawasan. Diantara pengajaran agama (khususnya Islam) yang diberikan ialah belajar membaca/mengaji al-Quran sejak kecil. Belajar ibadah dilaksanakan di rumah ibadah. Dalam pengaturan upacara perkawinan nuansa keagamaan cukup menonjol, demikian juga dalam suasana kematian. Fenomena keagamaan kadang-kadanng menjadi lebih kuat dari fenomena adat, khususnya di lingkungan suku masyarakat Mandailing Angkola. Tampilnya nuansa agama lebih dominan di lingkungan masyarakat Mandailing Angkola karena didukung oleh sarana pendidikan agama yakni pondok pesantren yang banyak jumlahnya didaerah itu. Diketahui bahwa 32 dari 70 pondok pesantren di Sumatera Utara terdapat di wilayah Mandailing Angkola, Padanglawas, dan Sipirok. Bukti pengaruh agama Islam yang dominan dalam kehidupan masyarakat Batak Mandailing Angkola terlihat dalam perjodohan/perkawianan semarga dapat diterima di sana (meskipun jarang terjadi). Padahal perkawinan semarga secara jelas dilarang dalam adat Batak, karena dinilai sumbang atau inces. Diterima kawin semarga oleh mereka jelas merupakan kuatnya keyakinan agama yang membolehkan itu. Siapa yang dapat dijodohkan dan siapa yang tidak dapat dijodohkan jelas disebutkan dalam Islam, misalnya dalam al-Quran surat an-Nisa 23-24 dengan jelas disebut siapa yang boleh dinikahi, tidak ada dalam ayat itu larangan kawin semarga, kecuali muhrimnya. (3) Hagabeon Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Dengan lanjut usia diharapkan ia dapat mengawinkan anak-anaknya serta memeperoleh cucu. Kebahagiaan bagi orang Batak belum lengkap, jika belum mempunyai anak. Terlebih lebih anak laki-laki yang berfungsi untuk melanjutkan cita-cita orang tua dan marganya. Hagabeon bagi orang Batak Islam termasuk keinginannya untuk dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Namun mengenai jumlah anak yang banyak (secara adat diharapkan memiliki 17 laki-laki dan 16 perempuan = 33 anak) yang telah berakar lama, telah mengalami pergeseran dari bersifat kuantitas pada anak yang berkualitas, mempunyai ilmu dan keterampilan hidup sekalipun jumlahnya tidak banyak. Peranan program KB (Keluarga Berencana) yang dilancarkan pemerintah cukup dominan dalam merubah pandangan tersebut. Seseorang makin bertambah kebahagiaannya bila ia mampu menempatkan diri pada posisi adat di dalam kehidupan sehari-hari. Jelasnya perjuangan yang berdiri sendiri tetapi ditopang oleh keteladanan dan pandangan yang maju. (4) Hamoraan Adapun nilai (kehormatan) menurut adat Batak adalah terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Kekayaan harta dan kedudukan/jabatan yang ada pada seseorang tidak ada artinya bila tidak didukung oleh keutamaanspiritualnya. Orang yang mempunyai banyak harta serta memiliki jabatan dan posisi tinggi diiringi dengan sifat suka menolong/memajukan sesama, mempunyai anak keturunan serta diiringi dengan jiwa keagamaan maka dia dipandang mora (terhormat). (5) Uhum dan Ugari Nilai uhum (law) bagi orang Batak mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari ketaatan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Setiap orang Batak yang menghormati uhum, ugari, dan janjinya dipandang sebagai orang batak yang sempurna. Keteguhan pendirian pada orang Batak sarat bermuatan nilai-nilai uhum. Perbuatan khianat terhadap kesepakatan adat amat tercela dan mendapat sangsi hukum secara adat. Oleh karena itu, orang Batak selalu berterus terang dan apa adanya tidak banyak basa-basi. (6) Pengayoman Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut diemban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu. Tugas pengayom ini utamanya berada di pihak mora dan yang diayomi pihak anak boru. Sesungguhnya sesama unsur Dalihan Na Tolu dipandang memiliki daya magis untuk saling melindungi. Hubungan saling melindungi itu adalah laksana siklus jaring laba-laba yang mengikat semua pihak yang terkait dengan adat Batak. Prinsipnya semua orang menjadi pengayom dan mendapat pengayoman dari sesamanya adalah pendirian yang kokoh dalam pandangan adat Batak. Karena merasa memiliki pengayom secara adat maka orang Batak tidak terbiasa mencari pengayom baru. Sejalan dengan itu, biasanya orang Batak tidak mengenal kebiasaan meminta-minta pengayom/belas kasihan atau cari muka untuk diayomi. Karena sesungguhnya orang yang diayomi adalah juga pengayom bagi pihak lainnya. (7) Marsisarian Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu. Secara bersama-sama masing-masing unsur harus marsisarian atau saling menghargai. Di dalam kehidupan ini harus diakui masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga saling membutuhkan pengertian, bukan saling menyalahkan. Bila terjadi konflik diantara kehidupan sesama masyarakat maka yang perlu dikedepankan adalah prinsip marsisarian. Prinsip marsisarian merupakan antisipasi dalam mengatasi konflik/pertikaian. 4. Mengapa Adat Budaya Dalihan Na Tolu Dilestarikan Suatu suku bangsa akan lenyap bilamana mereka tidak memiliki pegangan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Pegangan dimaksud adalah adat budaya yang terdapat pada suatu masyarakat . Oleh karena itu, nilai adat budaya perlu dikenalkan agar masyarakat sekarang dan yang akan datang mampu berprilaku sesuai tuntutan adat budaya yang dijunjung. Kita mengajarkan adat budaya kepada generasi muda selain sebagai sumbangan nyata, juga sebagai upaya membantu tegaknya tertib sosial kepada angkatan muda. Pengalaman pahit atau manis yang dialami oleh satu suku bangsa/etnis memang dapat mengembangkan nilai adat yang dilakukannya dan sejauhmana dia konsisten dengan nilai adatnya. Dalam kaitan itulah mengapa adat Dalihan Na Tolu (DNT) diajarkan dilingkungan suku Batak. Ia merupakan adat istiadat yang bertalian erat dengan sistem kekerabatan suku batak. Adat DNT secara harfiah berarti tiga tungku. Hal ini bisa dianalogikan dengan tiga tungku-masak di dapur tempat menjarangkan periuk. Maka adat Batakpun mempunyai tiga tiang penopang dalam kehidupan, yaitu (1) pihak semarga (in group), (2) pihak yang menerima istri (wife receving party), (3) pihak yang memberi istri (giving party). (Nalom Siahaan, 1982:20). Dengan perkawianan terjadilah ikatan dan integrasi diantara tiga pihak yang disebut tadi, seolah-olah mereka bagai tiga tungku di dapur yang besar gunanya dalam menjawab persoalan hidup sehari-hari. Cukup banyak fungsi adat ini bagi masyarakat pendukungnya, diantaranya pati dohan holong yang artinya menunjukan kasih sayang diantara sesama yang penuh sopan santun/etik. Dari fungsinya yang penuh kehidmatan maka adat DNT dapat diterima oleh setiap etnis Batak sekalipun mereka berbeda-beda agama. Mereka yang menganut agama Islam, Kristen, Katolik, dan Budha kadang-kadang begitu erat ikatannya karena konsep adat telah terbentuk sejak mulai lahirnya kelompok masyarakat yang identitas utamanya adalah adanya marga. Dengan marga itu orang Batak akan setia tehadap ketentuan adatnya di manapun mereka berada (Nalom Siahaan 1982:5). Marga bagi orang Batak biasanya adalah identitas yang menunjukan silsilah dari nenek moyang asalnya. Sebagaimana diketahui marga bagi orang Batak diturunkan secara patrinial artinya menurut garis ayah. Sebutan berdasarkan satu kakek dalam marga yang sama markahanggi (semarga). Orang batak yang semarga merasa bersaudara kandung sekalipun mereka tidak seibu-sebapak. Mereka saling menjaga, saling melindungi, dan saling tolong-menolong (St. Tinggi Barani P. Alam 1977:5). Fungsi lainnya dari adat DNT adalah pengenalan garis keturunan hingga jauh ke atas yang disebut tarombo (silsilah). Kekuatan kekerabatan terwujud dalam pemakaian tutur atau sapa. Tutur itu berisi aturan hubungan antar perorangan atau antar unsur dalam DNT. Tutur menjadi perekat bagi hubungan kekerabatan. Tidak kurang dari limapuluh macam tutur dalam kekerabatan Batak. Dengan menyebut tutur terhadap seseorang diketahuilah jalur hubungan kekerabatan diantara mereka yang menggunakannya. Tutur kekerabatan itu sekaligus menentukan prilaku apa yang pantas dan tidak pantas diantara mereka yang bergaul. Jika seseorang memanggil tutur tulang yaitu mertua atau saudara laki-laki dari ibu kepada seseorang, maka sipemanggil adalah bere (anak) dari tulang tersebut. Konsekwensinya akan ada hak dan kewajiban diantara mereka secara timbal balik. Tegaknya hak kewajiban diantara mereka sekaligus menentukan etika yang harus mereka jaga. Mereka harus menjaga etika dalam bersenda gurau. Demikian juga, tutur antara parumaen (istri anak atau menantu) terhadap amang boru (mertua laki-laki) ada etika adatnya yang masing-masing harus menjaganya, S. De Jong (1970:7) mengatakan bahwa di bawah payung yang sama yaitu adat, manusia menjaga hak dan kewajiban tutur. Pada orang yang berbeda agama kadang terdapat sikap hidup yang sama. Alasannya cukup sederhana, yakni karena mereka semua pertama-tama merupakan orang Jawa atau Batak yang berpegang pada adat. Dari gambaran adat DNT di atas, dapat dimengerti bahwa adat DNT dapat dibentuk dalam mengatur mekanisme integritas dan identitas antar marga (clan) di suatu kampung. Akan tetapi meskipun telah berkembang melintas batas daerah Batak namun konsep dasar adat DNT berlaku sama di setiap wilayah dan tempat. Hal ini bisa terwujud karena tutur dalam DNT amat menjaga adanya etika. Dari luasnya hubungan kekerabatan dalam adat Batak maka dapat dilihat tumbuhnya harosuan (keakraban) dan nilai ini sangat mendasar dalam segala pergaulan. Nilai keakraban itu tidak sekedar teori, tapi diaplikasikan dalam bentuk mekanisme sosial adat DNT sampai sekarang. Selain itu, yang senantiasa efektif penggunaanya dalam adat Batak adalah mengenai urusan siriaon dan sikukuton. Siriaon adalah kegiatan yang berkenaan dengan upacara adat bercorak kegembiraan seperti pesta perkawinan, mendirikan dan memasuki rumah baru, sedangkan siluluton adalah kegiatan adat yang bersifat duka cita seperti kematian. Dua macam peristiwa tersebut dipandang tidak dapat terlaksanan dengan baik tanpa partisipasi seluruh komponen adat DNT. (M.D. Harahap 1986:93). Setiap warga Batak yang sudah berumah tangga otomatis menjadi anggota pemangku adat DNT. Tidak ada alasan bagi mereka yang telah berumah tangga untuk tidak ikut tampil dalam menyelesaikan urusan siriaon dan siluluton di tengah-tengah masyarakat secara adat DNT. Karena bila salah satu unsur dari adat DNT tidak hadir maka suatu pekerjaan adat di pandang tidak sah dan tidak kuat. 5. Bagaimana cara Melestarikan Adat DNT Melestarikan suatu adat budaya dapat mempergunakan berbagai langkah seperti pemberian contoh/keteladanan, demontrasi, pemberian tugas, umpan balik, dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut dapat dipergunakan dalam melestarikan adat DNT. Caranya tidak harus berurutan tetapi dapat digunakan cara yang berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Dengan langkah seperti memberi contoh maka adat yang semula hanya sebagai pengetahuan, dapat digiring menjadi sikap dan kemudian berubah wujud menjadi diamalkan dan dipraktikkan atau didemonstrasikan dalam kehidupan nyata. Tayar Yusuf (1997:49) mengatakan dengan metode demonstrasi, yakni memperlihatkan bagaimana untuk melakukan jalannya suatu proses akan semakin lancarlah jalannya suatu adat. Disebut juga to show artinya mempertunjukkan suatu hal. Dengan latihan pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi miliknya dan betul-betul dikuasai (Tayar Yusuf, 1997:64). Metode latihan/pembiasaan juga banyak membantu pemahaman adat yang dilatih tentunya adalah hal-hal yang bersifat praktis, operasional seumpama melatih Markobar (berbicara adat) di tengah-tengah suatu acara baik adat siriaon ataupun siluluton. Yang dimaksud dengan umpan balik ialah dengan mengadakan suatu acara adat terhadap seseorang yang kurang begitu menjiwai adat, dengan harapan setelah ia mengikutinya maka dengan sendirinya ia menjadi pelaksana dan pendukung yang aktif. Secara gradual pengenalan adat akan dapat berjalan terus-menerus. Sedangkan sebagai tindak lanjut ialah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk acara adat. Penilaiannya adalah apakah suku-suku pemangku adat Batak sudah mewariskan adat budaya daerah disertai dengan contoh teladan terhadap masyarakat pendukungnya. Kelemahannya selama ini adalah kurangnya keteladanan dan latihan, umpan balik dalam adat batak. Apakah karena derasnya pengaruh arus budaya luar yang cenderung materialistis dan kurang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan turut mempengaruhi tidak berjalannya penanaman nilai-nilai adat budaya daerah, termasuk adat budaya batak? Jawabannya diserahkan pada pembaca. 6. Simpulan Adat budaya daerah, termasuk adat budaya Batak Dalihan Na Tolu dapat digunakan sebagai sarana dalam mempertahankan integrasi dan identitas bangsa, terutama di kalangan suku-suku yang ada di daerah secara luas. Di sana-sini pelaksanaan adat DNT semakin mengalami pendangkalan. Pendangkalan dimaksud ditandai dengan semakin berkurangnya perhatian masyarakat generasi muda mengenal dan melaksanakannya. Diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam memberi pengenalan dan pengamalan adat budaya daerah sebagai khasanah budaya nasional pembinaan adat budaya daerah/lokal dalam situasi bangsa menghadapi tantangan globalisasi menjadi penting guna menumbuhkan dan menguatkan kembali dalam berbangsa/bernegara. ——————————————————————————–
Pustaka Acuan
Astuti Rahmani. 1992. Asal Usul Manusia: Menurut Bibel Al-Quran dan Saint, Bandung : Mizan.
Departemen Agama Sumatera Utara. 1999. Peta Keagamaan Propinsi Sumatera Utara, Medan.
Harahap M.D. 1986. Adat Istiadat Tapanuli Selatan. Grafindo Utama, Jakarta.
Harahap B. Hamidi. 1979. Jalur Migrasi Orang Purba di Tapanuli Selatan. Majalah Selecta no. 917.
Harahap. E St. 1960. Perihal Bangsa Batak: Bagian Bahasa. Jawatan Kebudayaan, Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Hutagalung, W.M. 1990. Pustaka Batak: Tarombo Dohot Turi-Turian Ni Bangso Batak, Tulus Jaya, Jakarta.
Nalom Siahaan. 1882. Adat Dalihan Na Tolu: Prinsip dan Pelaksanaannya, Grafindo, Jakarta.
St. Tinggibarani P. Alam 1977. Burangir Nahombar: Adat Tapanuli Selatan, Balai adat Padangsidempuan.
S. De Jong. 1970. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
Tayar Yusuf. 1970. Metodologi Pengajaran Agama. Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.

  • surat
  • surat Batak
  • the bataks
  • filsafat surat batak

  • sumber : Harian SIB

    Oleh : Fr Ando Harapan Gurning

    Pada waktu kecil, penulis pernah melihat seorang bapak. Bibirnya berkomat-kamit seolah-olah membacakan mantra sebelum memotong ayam. Bukan hanya saat memotong ayam, bahkan saat memotong kambing, babi dan lebih lagi kuda juga selalu diiringi dengan ritus-ritus tertentu yang ujung-ujungnya melafalkan doa-doa tertentu. Mungkin ini sudah merupakan kebiasaan orang Batak Toba primal apabila mereka hendak menyembelih binatang.

    Dari kebiasaan tersebut, kita dapat bertanya apakah setiap lingkup adat Batak Toba menetapkan secara percis pada kesempatan mana, dengan maksud apa orang Batak Toba mesti berdoa saat memberi sesajen (pelean) atau mengorbankan seekor ayam, babi, kerbau dan kuda? Dengan kata lain, apakah sudah merupakan adat-kebiasaan orang Batak Toba primal kalau melakukan perbuatan religius selalu disertai dengan doa, sesajen dan ritus? Dari pertanyaan ini kita coba menggali makna doa atau tonggotonggo secara spesifik dari sudut fenomenologi agama. Kita boleh bertanya manakah dasar? Apakah doa atau sesajen?

    Menurut beberapa informan penulis, dalam kegiatan religius orang Batak Toba jarang dibedakan “doa” dan “upacara” atau “pelean” dan “korban”. Ada ahli yang mengatakan bahwa doa merupakan yang paling pokok sedangkan persembahan sekunder. Setiap persembahan harus didahului oleh doa sekalipun sangat pendek sebab lewat doa persembahan dinaikkan kepada yang ilahi. Lewat doa pula disampaikanlah apa maksud persembahan. Persembahan mengabdi doa karena doa diyakini sebagai elemen mendasar dari setiap persembahan. Pendoa berbicara dan menyampaikan maksud persembahan dengan menggunakan gaya tertentu dan bahasa yang sopan (A.B. Sinaga). The Batak prayer is not a magical formula, not is the sacrifice a magical ceremony. The gods and spirit are begged, not forced by prayer. The Batak also have magical formulae, but theses are not connected with sacrificial system (Loeb 1955:93).

    Dengan demikian dapat dikatakan bahwa paham dasar adalah doa yaitu komunikasi antara orang Batak Toba dengan Mulajadi Na Bolon dan dengan para leluhurnya: begu, sombaon, simangot dan sumangot. Upacara dan korban adalah perpanjangan doa. Orang Batak Toba primal menyebut komunikasi antara manusia dengan yang ilahi dengan kata tangiang dan tonggotonggo. Tangiang berasal dari dua kata yakni tangi dan iang. Kata tangi atau bege berarti dengar, mendengarkan subyek lain yang sedang mengatakan sesuatu. Biasanya kata tangi ditujukan kepada orang yang lebih berkuasa atau mempunyai kekuatan yang dapat dibanggakan yang bersifat gaib. Sedangkan kata iang artinya terhormat, mulia, dimuliai. Tangiang berarti mendengarkan ‘orang’ yang terhormat, yang dimuliai. Lain halnya dengan tonggotonggo. Tonggotonggo adalah doa yang dirangkai dengan menggunakan gaya bahasa yang penuh seni dan digunakan pada upacara keagamaan yang mengikutsertakan sesajian dan korban. Biasanya doa ini diresitir oleh seseorang (datu), sebagai doa presidensial, yang ditujukan kepada Debata Mulajadi Na Bolon, Debata Na Tolu dan roh-roh para leluhur.

    Tiga tipe doa yang cukup berperanan dalam kehidupan orang Batak yang barangkali juga sama pada Budaya lain, yakni doa permohonan, syukur dan doa pemulihan. Ketiga tipe doa tersebut sering tercampur. Diyakini orang Batak bahwa tanpa presensi ilahi atau roh para leluhur pekerjaan tertentu tidak akan berhasil. Hal ini tidak berarti orang Batak Toba percaya bahwa sukses melulu bergantung pada doa. Banyak faktor yang diakui termasuk sikap dan tingkah laku orang yang bersangkutan turut menentukan kesuksesan. Hal itu terungkap dalam umpama pantun hangoluan tois hamatean.

    Dari doa yang disampaikan kepada yang ilahi, kita dapat melihat sikap orang Batak Toba kepada yang kudus. Berikut ini kita menganalisis pola doa yang disampaikan kepada Mulajadi dan penguasa-penguasa lain.

    Ompung Mulajadi Na Bolon, yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Dan Kamu Dewata yang maha mulia, Ilaha yang tiga, yang tiga kekuatan, penghuni tiga kerajaan yang melindungi langit dan bumi serta manusia. Dan bagi sahala ompu kami Siraja Batak yang pertama ada (Rajapatik Tampubolon 1967:432-433).

    Dari doa di atas dapat dikatakan bahwa Mulajadi Na Bolon sebagai penguasa tunggal lebih dahulu dan secara langsung disebut. Ia disapa dengan sebutan ompung. Debata Na Bolon merupakan pancaran kuasa Mulajadi Na Bolon yang dikenal sebagai penguasa dan yang memerintah langit, dunia dan manusia. Ia hadir dalam alam dan dalam diri manusia. Sedangkan Sisingamangaraja adalah pemimpin Orang Batak. Dalam artian lain nama penguasa langit dan bumi disebut secara hirarkis-piramidal.

    Tonggotonggo sering juga secara langsung diarahkan kepada roh yang dimaksud yang diyakini memberi berkat atau kutuk sehingga seolah-olah Ilah Yang maha tinggi (Mulajadi Na Bolon) jauh dan dilupakan. Ini tidak berarti bahwa yang ilahi terlupakan dan alam pikiran. “Dewa yang maha tinggi mungkin sama sekali tidak masuk dalam hidup orang secara praktis, tetapi bagaimanapun juga tampak dalam kesasaran religius orang” sebagai mana ditampakkan lewat gelar yang dikenakan kepada yang ilahi yang tertinggi tersebut.

    Tonggotonggo yang disampaikan secara langsung kepada roh-roh misalnya sebagai berikut: jadi ompung boru sin (dar)-dolok, di sini kami membawa beras persembahan, santi madingin santi matogu, sirih saur, daun segar dan uang yang nyaring bunyinya (logam) (Simamora 1997:18). Doa tersebut jelas langsung disampaikan kepada roh penjaga hutan yang derajatnya berada di bawah kuasa Debata Na Tolu terlebih Mulajadi Na Bolon.

    Secara umum juga bentuk sapaan berupa rentetan permintaan yang terus terang disampaikan dalam tonggotonggo. Misalnya, semoga telingamu mendengar, matamu mengawasi untuk menjagai kami. Agar kami sehat walafiat dan selamat. Berikan kepada kami anak-anak yang gigih berjuang, orang-orang bijak dan pahlawan. Berikan kepada kami putri-putri yang pandai memasak pada periuk yang besar dan trampil bertenun, murah hati memberi. Bintang tertabur luas, embun meresap tanah; berilah banyak putra dan putri pun melimpah (Sinaga, 178).

    Satu hal yang menarik dari doa yang disampaikan oleh para datu yakni bahwa sifat-sifat ilahi tampak di dalam tonggotonggo tersebut. Lebih menarik lagi bahwa rentetan permohonan disampaikan melalui atau lewat makna-makna persembahan. Hal itu dapat kita lihat dalam tonggotonggo berikut ini.

    Di sini aku Ompung memegang air berkat, yang amat jernih, yang memperjelas penglihatan, yang menerangi hati, yang menerangi jiwa, buah jeruk purut demi pengetahuan terhadap yang baik dan benar, serta buah kemangi yang harum dan pucuk beringin di dalam cawan putih, yang menjadi berkat bagi kami ompung, yang menjadi keselamatan bagi kami.

    Agar menjadi berkat bagi kami Ompung yang menyucikan tubuh dan jiwa kami di masa mendatang, supaya berlipat ganda yang baik bagi kami, berlimpah kebijaksanaan seperti raja, termulia bersama istri yang tercinta, dan berilah pada kami anak-anak yang bijak dan pintar. Agar menyehatkan kami, menjadi obat dan penangkal penyakit dan bahaya; perlindungan dan kekebalan pada kami, agar kami tidak tercemar dan terurapkan dari penyucian, yang tidak bisa dihukum karena sama sekali tidak bersalah. (Tampubolon, Ibid.).

    Secara umum pemikiran Batak Toba primal tentang doa atau tonggotonggo dapat dikatakan sebagai berikut. Doa merupakan hubungan yang asimetris. Dalam bentuk-bentuk doa yang berbeda, entah seseorang dihubungkan dengan yang ilahi sebagai ompung, sombaon, sumangot atau begu, selalu ada rasa ketergantungan. Hubungan asimetris ini merupakan suatu komunikasi, karena betapapun yang suci dilihat transenden, suatu komunikasi masih dibuka dengan doa. Jurang antara yang sakral dan profan justru dijembatani dengan tindakan doa. Inilah pertemuan antara yang ilahi dengan yang manusiawi, suatu kehadiran ilahi yang dirasakan di antara manusia Batak Toba dan oleh manusia Batak Toba.

    Dalam doa permohonan untuk berkat dan karunia jasmani maupun rohani, diakui bahwa yang ilahi merupakan penguasa atas karunia-karunia ini. Dia juga menjadi penentu untuk menganugerahkan dan bebas untuk memberikannya atau tidak. Yang ilahi menjadi awal mula yang rohani dan jasmani. Sebaliknya eksistensi manusia dapat dirunut pada sumber rohaninya kembali. Kita dapat bertanya lebih jauh apakah dalam sumber rohani itu orang Batak menemukan keselamatannya?

    Sikap dasar dalam doa adalah suatu penyerahan dan kepercayaan kepada bimbingan dan tuntutan roh yang menandakan serta mengatur manusia dan kosmos. Di dalam doa tampak ketergantungan orang Batak Toba sebagai mahkluk yang terbatas dibawa oleh doa ke dalam suatu dimensi yang baru. Di dalam tonggotonggo, orang Batak Toba primal menarik diri ke dasar spritualnya dan di situ mencapai kebebasan yang sejati, sementara dunia telah kehilangan kuasa atasnya.

    Dalam tonggotonggo cukup terasa pengalaman akan yang ilahi. Pada bidang transendensi ditemukan bahwa Mulajadi Na Bolon mempunyai pribadi dan wibawanya ada dalam dirinya, sehingga memenuhi syarat Mysterium Tremendum et Fascinosum, Hahomion Jorbut-masormo, misteri yang menggetarkan. Orang yang berdoa adalah yang paling kuat di dunia karena ia dipindahkan ke alam yang kudus, yang ilahi, yang paling kuat dan partisipasinya pada yang ilahi membuat orang tersebut turut ambil bagian dalam kekuatan yang ilahi. Apakah pengalaman ini masih berlangsung sampai sekarang? (w)

    posting oleh : St. KE. Sianipar pada tanggal : 24 Juli 2002 di mailing list : GenB

    Panggilan Ampara (baca appara) biasanya ditujukan kepada dongan tubu atau dongan sabutuha, secara khusus antara lelaki dengan lelaki. Kami na mardongan tubu Tuandibangarna ( Panjaitan, Silitonga, Siagian dan Sianipar). Melihat uurutan ini, Sianipar adalah adik ketiga marga diatas.

    Tetapi jika ada Panjaitan sebut saja ampara Donal ( haha partubu) mengetahui usia saya lebih tua dari dia, maka dia panggil bapa uda walaupun sebenarnya saya anggi partubu. Meski dia panggil saya bapa uda, tetapi saya tidak elegant panggil dia anak, karena Donal keturunan haha partubu/abang , lihat urutan marga kami tadi. Jadi agar lebih dekat dan tidak merasa bersalah, saya panggil dia ampara. Tetapi, kalau ketemu pada acara paradaton( pernikahan, kematian dll) , saya tidak boleh panggil Donal ampara, harus haha/abang, walaupun usianya jauh dibawah saya misalnya, karena dia sudah berkeluarga.

    Bagi na mardongan sabutuha/marga yang sama (SIANIPAR dengan Sianipar atau Tampubolon dengan Tampubolon) belum mengetahui nomor, boleh juga panggil ampara. Tetapi kalau salah satu pihak telah mengetahui nomor/silsilahnya, tidak boleh panggil ampara KECUALI nomor dalam tarombo/silsilahnya sama.

    Mis, Kalau ada marga Sianipar dimilis ini bernomor XV maka kamipun dapat saling menyapa AMPARA. Biasanya, kalau ketemu dengan nomor silsilah yang sama, akan dilanjutkan dengan pertanyaan, NUNGGA MARHASOHOTON/sudah nikah.? ATAU BERAPA USIANYA.?. Hal ini untuk mengambil posisi panggilan. Kalau salah satu usianya lebih tua, maka yang muda panggil abang, tidak boleh bapa uda.

    Demikian halnya dengan Tampubolon, Silaen dan Baringbing. Ketiga kakak beradik ini dapat memanggil ampara satu sama lain, kecuali masing-masing sudah mengetahui usia, boleh juga memanggil bapa uda , bapa tua. Ampara ini juga kerap dipakai oleh marga yang marpadan. Misalnya marga Panjaitan marpadan dengan Sibuea atau Tampubolon dengan Sitompul. KENAPA, kalau sudah marpadan dianggap marhaha anggi/akak adik. Itu sebabnya marga yang marpadan tidak boleh masibuatan ( kawin mengawin).

    Sebagaimana dimuat dalam Kolom Lebih Jauh Dengan di Kompas Minggu

    PALING tidak ada empat hal yang berhenti dalam gerak waktu pada diri fisikawan ini: guyonnya yang autentik dan terus mengalir, asap rokoknya yang laten mengepul, butir kapur tulis yang terkelupas oleh papan tempat ia menoreh tanda matematik saban menjelaskan fisika, serta kemeja lengan panjang dan pantalon berukuran pas di tubuhnya yang tak kunjung kusut sepanjang hari. Begitulah Pantur Silaban 25 tahun silam, juga hari-hari ini.

    Yang terus bergerak adalah usahanya mengenali dan menjelaskan fenomena, sejarah, dan masa depan alam dari tingkat renik sampai jagat raya. Baik untuk disampaikan kepada mahasiswanya maupun sejawatnya pada seminar nasional, simposium internasional seperti tahun-tahun lalu di lingkungan fisikawan teori antarbangsa di Trieste-Italia, Melbourne, dan New York. Doktor fisika Universitas Syracuse, Amerika Serikat (1971) dengan disertasi Null Tetrad Formulation of the Equation of Motion in General Relativity ini mengikuti perkembangan fisika teori dari era Newton, Maxwell, Einstein, sampai Penrose terentang 350 tahun dan sekarang, “Sedang mencari perusakan simetri apa yang bertanggung jawab menciptakan muatan listrik,” katanya.

    Fisikawan pertama Indonesia dalam Relativitas Umum ini tergolong langka di bidangnya, juga di kawasan Asia Tenggara. Guru besar fisika teori ITB per Januari 1995, kelahiran Sidikalang, 11 November 1937 ini pensiun akhir 2002. Namun, Ketua Departemen Fisika ITB Dr Pepen Arifin mempertahankan Silaban mengajar sampai kapan pun di sana. Ketua Kelompok Bidang Keahlian Fisika Teori ITB Dr Freddy P Zen mempertegas, “Kalau jurusan kekurangan ruang kerja, saya sediakan kamar saya untuk beliau.”

    Di lingkungan keluarga ia menebang folklor, “Rebung tak jauh dari rumpun.” Ayahnya Israel Silaban dan ibunya Regina br Lumbantoruan adalah pedagang buta huruf, tapi Pantur terdidik sampai PhD lalu profesor di lembaga pendidikan terkemuka: ITB.

    Keempat putrinya, buah perkawinan dengan Rugun br Lumbantoruan, sarjana dari perguruan tinggi negeri. Anna lulusan Ekonomi Universitas Padjadjaran; Ruth dokter spesialis saraf Universitas Padjadjaran; Sarah lulusan Teknik Sipil ITB dan magister Universitas Teknologi Chalmers, Swedia; dan Mary si bungsu sarjana geologi ITB. Tinggal Mary yang belum berkeluarga.

    Nama putrinya berbau Semit, demikian pula ketiga cucunya: Joshua Bala, Jeremy Binsar Gultom, dan Joseph Gultom. “Saya memang terkesan dengan etos kerja Yahudi,” katanya. “Anda tahu Syracuse itu universitas orang Yahudi. Hanya ada dua jenis manusia yang diterima di sini. Kalau bukan Yahudi, ya pasti orang pintar. You tahu saya bukan Yahudi.”

    Joshua untuk cucunya dari nama depan promotor utamanya, Joshua N Godlberg, yang sampai hari ini berhubungan baik dengan keluarganya. “Tahun depan saya ke New York sebab Goldberg 80 tahun,” katanya.

    Pada 30 Agustus lalu Rektor ITB Dr Kusmayanto Kadiman mendaulat Silaban menyampaikan kuliah populer terbuka untuk umum, Umur Alam Semesta, yang dihadiri 300 pengunjung dari berbagai kalangan.

    Sebelumnya Anda bilang tak menyinggung Tuhan dalam ceramah itu? Mengapa?

    Pertanyaan teologis selalu muncul ketika ditanyakan apa yang terjadi antara permulaan waktu dan Dentuman Besar yang hanya 10-43detik itu. Ada dua pendapat. Yang pertama mengatakan saat itu sudah berlaku hukum-hukum fisika, yang lain mengatakan tidak berlaku. Stephen Hawking, yang kita akui pemikir besar, mengatakan dalam durasi pendek itu Tuhan bersembunyi. Tugas fisikawan mencari persembunyian Tuhan.

    Memang ada pendapat yang mengatakan Semesta terbentuk kebetulan saja. Tak ada penciptanya. Saya hanya mau mengatakan selera saya berbeda dengan Hawking. Dia sering menyerempet ke ihwal yang doesn’t make sense. Bagi saya, fisika bukan ilmu ketuhahan walau ada yang mengatakan teologi itu cabang fisika. Memang ada tiga pendapat tentang ini. Yang pertama: teologi dan fisika adalah dua hal berbeda. Yang kedua: teologi dan fisika adalah dua cabang dari satu pengetahuan yang nanti menuju kesimpulan sama. Yang ketiga: kedua ilmu itu bertentangan.

    Ketika baca buku Menapak Jalan-Jalan Tuhan, saya jadi kacau dalam segala bidang, termasuk iman. I just want to be myself, I don’t want to be a slave of Hawking, Penrose or Einstein.

    Selain mengenai Tuhan, apa yang sering ditanyakan kepada Anda sebagai fisikawan?

    Pertanyaan yang mempermasalahkan apakah teori Einstein benar atau salah. Saya selalu menjawab sebagai orang yang puluhan tahun bekerja dalam Relativitas Umum, saya tidak pernah mengatakan apakah teori Einstein benar atau salah.

    Saya tak mau terulang kejadian pada Simposium XI Fisika Nasional di Yogyakarta dulu. Waktu itu fisikawan kita, Prof Achmad Baiquni, masih hidup. Rupanya ada orang yang mengklaim teori Einstein salah. Terus Baiquni minta saya, “Tolong kamu bantah.” Saya jawab, “Soal salah-benar teori Einstein, saya tidak tahu. Cuma, kalau ditanyakan teori Einstein itu seperti apa, saya akan coba jelaskan. Yang penting kita jangan menyelewengkan ide-ide Einstein.”

    Untuk itu, mari kita baca tulisan Einstein dalam The Meaning of Relativity, buku yang ditulis Einstein sendiri, bukan orang lain tentang teori itu. Jawab orang itu, saya tidak mau baca karena dalam bahasa Inggris, bahasa orang kafir. Ini susah!

    Einstein sering salah dikutip?

    Tampaknya begitu. Ada yang bilang, kesalahan Einstein terletak pada pernyataan: tak ada yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Saya bilang tunggu dulu.

    Semua teori dibangun entah oleh prinsip, aksioma, dalil, atau apa saja namanya. Prinsip Relativitas Khusus: semua sistem inersia ekivalen satu sama lain. Artinya, kalau kita punya dua sistem inersia maka yang terjadi di sistem satu dapat terjadi juga di sistem dua. Tegasnya, kalau di sini bisa terjadi pembunuhan, di sana bisa juga terjadi pembunuhan. Segala fenomena fisika yang terjadi di sini bisa juga terjadi di sana.

    Prinsip kedua: laju cahaya dalam vakum konstan, tidak bergantung pada pengamat, tidak bergantung pada sumber. Apakah sumbernya loncat-loncat atau pengamatnya menari, laju cahaya konstan. Sepanjang yang saya tahu, Einstein tak pernah mengatakan “dengan catatan bahwa laju cahaya tak bisa dilampaui apa pun”. Itu sebabnya ketika fisikawan Sudarshan mengatakan partikel tachyon bergerak melebihi laju cahaya, ia tidak melanggar prinsip Relativitas Khusus. Sifat inheren cahaya yang seperti ini merupakan revolusi pemikiran penting dalam fisika yang dikemukakan Einstein.

    Anda mengupayakan ungkapan Indonesia untuk menjelaskan gravitasi: kalau sudah milik tak akan ke mana?

    Saya lama merenungkan itu. Di alam kita kenal empat macam interaksi: gravitasi, elektromagnetik, kuat, dan lemah. Gravitasi adalah fenomena paling lama dikenal orang, tapi sekarang pun masih misteri. Teori gravitasi pertama berasal dari pandangan Yunani kuno yang mengatakan sebuah benda jatuh ke Bumi karena ia milik Bumi. Mirip dengan ungkapan yang kita kenal: kalau sudah milik tak akan ke mana.

    Saya tak mau mengatakan teori Yunani kuno salah. Kemarin saya bilang kepada Dr Freddy, ada kemungkinan teori itu betul. Buktinya: beberapa waktu lalu ponsel saya tertinggal entah di mana. Saya anggap hilang. Orang yang menghubungi saya mengatakan ponsel itu tak pernah diangkat lagi. Saya coba rekonstruksi beberapa kemungkinan di mana saya berada ketika ponsel tertinggal. Di rumah tak ada sebab kalau tak menemukannya, saya coba hubungi dengan telepon rumah untuk mengetahui di mana benda itu sembunyi.

    Saya mulai menelusuri harga ponsel baru. Punya saya itu murah. Hanya Rp 480.000. Saya pergi ke Jakarta dan ketemu teman, rupanya ponsel itu tinggal di tempatnya. Dia temukan di bawah buku. Saya pikir kalau sudah milik tak akan ke mana ada benarnya. Kok jauh begitu, masih ketemu?

    Jadi mengenai teori, urusannya bukan benar salah?

    Ada yang bertanya kepada saya, “Bagaimana Bapak mempelajari sesuatu yang tak Bapak yakini benar?” Saya balik bertanya, “Anda yakin yang Anda pelajari itu semua benar?”

    Yang kita anggap benar sekarang belum tentu benar 100 tahun mendatang. Sering kita menganggap sesuatu benar karena diungkapkan seorang terhormat, terpandang. Menurut saya, seterhormat apa pun seseorang, banyak yang tak ia ketahui tapi diketahui orang yang sama sekali tak berpendidikan. Saya mau merombak tradisi panutan.

    Socrates mengklaim kaki laba-laba enam dan bertahan seribuan tahun. Karena Socrates yang ngomong, sudah jaminan mutu. Begitu toh? Setelah sekian lama seorang ahli biologi-kalau tak salah Lamarck-menghitung. Kaki laba-laba ternyata delapan. Dulu apa saja yang dikatakan Soeharto jaminan mutu, tapi sekarang? Kenapa orang cenderung menghukum Galileo? Karena orang banyak lebih percaya kepada tokoh gereja Katolik waktu itu, yang dengan kebesaran agama mengklaim diri sumber kebenaran.

    Anda sering bilang kita perlu belajar dari alam menjalani hidup. Apa contohnya?

    Banyak. Salah satu, teori atom Bohr yang mengajari kita bahwa alam antikorupsi. Model Bohr begini. Atom terdiri dari inti di pusat dan elektron yang mengitari inti. Orbit kitaran itu dinamakan kulit: pertama, kedua, dan seterusnya. Energi di kulit ke-n dinyatakan dengan E>savdnressavupres<. Jadi, energi di kulit pertama -13,60eV, kedua -3,40eV, ketiga -1,51eV.

    Kalau ditembak dengan sinar berenergi 10,20eV, elektron itu baru mau pindah dari kulit kedua ke kulit pertama. Dia akan naik ke sini karena dibutuhkan persis 10,20eV, yakni selisih 13,60eV dengan 3,40eV, untuk pindah orbit. Semacam promosi jabatan untuk para birokrat. Tak boleh kurang tak boleh lebih.

    Bagaimana kalau energi diberi 11eV? Elektron akan bilang saya hanya butuh 10,20eV. Yang 0,80eV buang saja. Bagaimana kalau kamu kantongi dulu menunggu tambahan? Dia tidak akan mau. Jadi, alam mengatakan jangan pakai melebihi apa yang kau butuhkan.

    Apa masalah besar bangsa kita?

    Salah satu, kualitas kita yang makin rendah dalam ilmu dasar. Saya mau katakan, kualitas lulusan pascasarjana fisika lima tahun terakhir ini lebih rendah ketimbang kualitas sarjana fisika semasa Anda tahun 1980-an. Bayangkan banyak yang tak mengerti bagaimana menginversikan matriks. Dalam hal ini, di ASEAN, Indonesia peringkat 7 dari 10. Di bawah kita hanya Laos, Myanmar, dan Kamboja. Vietnam di atas kita. Sebelum Perang Vietnam punya banyak orang pintar. Saya kira Vietnam hanya bisa dipertandingkan dengan Singapura.

    Saya pernah tanya, negara mana yang kuat di dunia ini tapi ilmu dasarnya lemah. Enggak ada. Rusia kuat, ilmu dasarnya kuat. Demikian pula Inggris, Perancis, apalagi Amerika Serikat.

    Beberapa murid pintar SMA dari kalangan Batak pernah datang ke saya ingin belajar serius fisika. Penghalangnya justru orangtua mereka. “Kalau lulus, kamu mau makan apa? Paling kamu jadi guru.” Begitu ancaman orangtua. Dari situ kelihatan, profesi guru dilecehkan. Padahal, yang menentukan maju-tidaknya sebuah bangsa adalah guru.

    Waktu pilih Fisika, enggak ada masalah dengan orangtua?

    Ayah saya yang pedagang dan buta huruf hanya mengatakan, “Kamu terserah pilih apa. Kami hanya bisa bantu menyekolahkan. Saran saya ambil bidang yang kamu suka.” Tak disuruh pilih yang menghasilkan uang sekian. Ibu saya, yang buta huruf tapi cekatan menghitung uang, menyarankan saya pilih kedokteran. Rupanya dia lihat setiap mengobati pasien, dokter dapat uang. Waktu itu memang mudah kita memilih mau kuliah apa. Orang masih sedikit. Namun, jangan salah, mutu lulusan SMA dulu jauh lebih baik daripada yang sekarang.

    Ada juga minat masuk teologi. Anehnya, saya sakit selama di Jakarta mempersiapkan diri masuk ke sana. Saya masuk Fisika ITB dan lulus dalam tempo 6,5 tahun, waktu minimal saat itu untuk lulus sarjana. Kalau saya ditanya mengapa belajar fisika, jawaban saya: karena memang saya menyukainya.

    Pernah berpikir meninggalkan fisika?

    Begini. Saya pernah baca tulisan Carnegie tentang pengusaha ikan. Suami istri itu pekerja keras, mengumpulkan modal sedikit demi sedikit, lalu berunding bagaimana kalau buka usaha. Setelah melihat geografi mereka tinggal, kesimpulannya: buka usaha ikan. Keduanya berunding memberi nama perusahaan itu: Di sini Kami Menjual Ikan Segar.

    Usahanya berhasil setelah tekad bertahun-tahun dengan nama begitu. Suatu hari datang pembeli. Katanya, “Panjang sekali merek usahamu. Kamu menjual ikan di sini, bukan di tempat lain, untuk apa kata di sini.” Masuk akal. Dicoretlah kata itu.

    Datang lagi pembeli lain. “Mereknya kok Kami Menjual Ikan Segar. Sudah pasti kalian yang jual, untuk apa kami?” Dicoretnya kami. Didengarnya orang lain. Hari lain datang lagi pembeli. “Kenapa begitu panjang nama ini, kamu letakkan ikan di sini untuk dijual, untuk apa kata menjual?” Dicoretnya kata itu. Tinggal Ikan Segar. Datang lagi pembeli dan bertanya, “Kamu enggak akan jual ikan busuk?” Dicoretnya segar. Tinggal Ikan. Pembeli terakhir datang, “Dari jauh saya sudah mencium ikan, untuk apa kamu menamakan toko ikan?”

    Setelah itu mereka gulung tikar. Artinya, sesuatu yang dipikirkan lama, karena mendengar saran orang lain, bisa berubah dan hancur. Tentu tidak salah mendengar saran orang lain, tapi bukan untuk mengubah keputusan yang sudah bertahun-tahun kita pikirkan. Saran itu semua logis.

    Belajar fisika selalu direcoki dengan pertanyaan begini. Kalau kamu fisikawan, berapa sih uang yang kamu dapat? Lihat orang itu tiap tahun bisa ganti mobil, tambah rumah. Kalau dia bisa, masa kamu enggak bisa. Masuk akal juga. Kalau saya harus meninggalkan disiplin Relativitas Umum yang saya kerjakan sampai tingkat PhD, habislah semuanya. Cerita Carnegie itu suatu pendidikan.

    Anda mengajar dengan kapur, sementara dosen lain dengan proyektor dan lain-lain. Mengapa?

    Belakangan memang ada kebiasaan dosen pakai transparan dan proyektor. Ada satu segi kecil yang menguntungkan di sini. Katanya menghemat waktu supaya bahan yang diajarkan meliput semua yang ditentukan dalam suatu semester. Tapi, dalam belajar ilmu dasar umumnya, fisika khususnya, ada ungkapan Do not cover physics, but discover it.

    Kedua, segi negatif, banyak dosen yang seakan-akan mempersiapkan bahan kuliah dengan transparan atau disket. Mahasiswa habis waktu mencatat. Sesungguhnya dosen itu datang tanpa persiapan. Dia hanya menyorongkan bahan untuk dicatat mahasiswa.

    Saya lain. Guru saya mengatakan “Jangan lakukan itu!” Persiapkan dirimu sebaik-baiknya. Yang tak tahu katakan tak tahu, sebab kita tak bisa menebak pertanyaan mahasiswa. Sikap seperti ini paling efisien dengan papan tulis. Roger Penrose sampai sekarang pakai papan tulis. Oktober 2002 waktu seminar di Syracuse, semua orang mengatakan you are the old fashion man karena masih presentasi dengan papan tulis. Dia katakan tak peduli.

    Namun jelas, kalau datang ke kelas dengan persiapan mengajar, Anda justru tak perlu bawa apa-apa. Saya selalu berusaha masuk kelas sarjana maupun pascasarjana tanpa secarik kertas, walau tentang Medan Kuantum dan Relativitas Umum. Yang penting, saya katakan di kelas hari ini kita membicarakan ini, tanya saja yang berhubungan dengan itu sepanjang kuliah. Kalau bisa kita jawab, ya kita jawab.

    Anda punya segudang lelucon. Dari mana?

    Saya suka dengar dan baca joke yang ada moral ceritanya. Kadang saya ciptakan sendiri. Sering manusia dengan segala cara membenarkan diri. Jarang orang membuka kartu bahwa ini kesalahan saya. Lelucon sering menguliti kita dari bungkus kemunafikan.

    Kemarin Anda kutip Alexander Solzhenitsyn tentang bahaya kekuasaan. Baca sastra juga?

    Saya baca buku apa saja. Yang selalu saya ambil pesan moralnya. Dari lagu juga saya dapat. Pernah dengar lirik lagu Amerika: How many ears must one man have before he can hear people cry? Enak lagunya, tapi mari merenungkan artinya. Sebelum bisa mendengar rintihan orang lain, berapa telinga yang harus dia punya? Saya bandingkan dengan kisah Alkitab, Yesus menyembuhkan orang tuli. Kita sekarang tidak mendengar jeritan orang. Kitalah yang tuli. Lalu siapa yang menyembuhkan kita yang tuli?

    Dengar musik klasik?

    Saya suka, entah Bach entah Beethoven. Menurut saya, musik instrumental pun menyuarakan pesan moral melalui nada, irama, dinamika. Hanya saja, mengapa Jerman yang banyak menghasilkan musik, sastra, filsafat yang sarat makna bisa melahirkan Hitler yang beringas dan orang kejam. Barangkali ada kaitan dengan hukum aksi-reaksi dalam fisika: di mana timbul sesuatu yang positif, selalu diusahakan timbul aspek jahat yang akan menghancurkan yang baik.

    Orang fisika akhirnya dekat dengan soal kehidupan. Bisa kita rasakan dari tulisan Einstein, Weinberg, Capra, Gell-Mann.

    Saya kira benar. Saya selalu katakan orang fisika yang masih muda, masih ingusan, biasanya arogan. Tahu rumus kuantum, dia sombong. Namun, hampir semua orang fisika, makin tua makin merendah.

    Pewawancara: SALOMO SIMANUNGKALIT